La Nyalla Dorong Pemerintah Bangun Pabrik Ekstraksi Aspal Buton untuk Setop Impor

Kastolani ยท Jumat, 18 Juni 2021 - 19:23:00 WIB
La Nyalla Dorong Pemerintah Bangun Pabrik Ekstraksi Aspal Buton untuk Setop Impor
Ketua DPD AA La Nyalla Mahmud Mattalitti. (Foto: Istimewa)

BAUBAU, iNews.id - Ketua DPD AA La Nyalla Mahmud Mattalitti mendorong pemerintah menunjuk sebuah BUMN atau BUMD untuk membangun pabrik ekstraksi aspal Buton. Langkah ini penting agar pemerintah bisa mengoptimalkan produksi aspal Buton dan mengurangi sekaligus menyetop impor aspal minyak. 

La Nyalla menyampaikan hal itu saat bertemu Wali Kota Baubau AS Tamrin di rumah jabatan Walikota Baubau, Kamis (17/6/2021) malam. Kegiatan ini juga diikuti Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi dan Sultan Buton ke-40 La Ode Muhammad Izzat Manarfa.

Senator asal Jawa Timur yang hadir didampingi Ketua Komite III Sylviana Murni dan tiga anggota DPD Dapil Sultra Amirul Tamim, Dewa Putu Ardika Seputra, Andi Nirwana, menyampaikan potensi alam Pulau Buton. Salah satunya aspal Buton yang merupakan aspal alam dengan cadangan terbesar di dunia.

Saat ini, aspal Buton berjumlah 694 juta ton dengan kadar bitumen 15-35 persen. Potensinya ditaksir dapat melayani kebutuhan aspal nasional untuk menyuplai pembangunan jalan nasional selama 330 tahun dengan asumsi kebutuhan aspal nasional sebesar 2 juta ton per tahun. 

Namun, dia menilai pemerintah belum mampu mendayagunakan potensi tersebut dengan maksimal. "Apakah kita akan bersuka cita menyambut 1 abad aspal Buton, atau justru bersedih karena pemerintah belum juga mampu mendayagunakan anugerah Tuhan ini dengan maksimal dan optimal untuk kemajuan bangsa dan negara ini," kata LaNyalla.

La Nyalla mengatakan, aspal Buton akan genap berusia 100 tahun atau 1 abad pada tahun 2024. Namun, dia merasa Indonesia belum bisa memaksimalkan potensi alam yang ada di Bumi Seribu Benteng tersebut karena lebih banyak mengimpor untuk kebutuhan aspal dalam negeri.

"Sampai hari ini pemerintah membangun infrastruktur jalan tanpa menggunakan aspal Buton. Dengan segudang alasan, termasuk tidak efisiennya aspal Buton sehingga lebih baik pemerintah melakukan impor aspal minyak," ucapnya.

Menurut La Nyalla, upaya-upaya pemerintah dalam mencari solusi untuk menyelesaikan permasalahan aspal Buton juga kurang tepat sasaran. Selain itu, tidak menyentuh inti substansi dari permasalahan yang sebenarnya.

Saat ini produksi aspal Buton dalam bentuk granular tidak lebih dari 70.000 ton per tahun. Sementara kebutuhan aspal nasional 1,5 juta ton per tahun. Akibatnya Indonesia masih harus memenuhi kebutuhan aspal dari aspal minyak impor.

“Kalau pun sekarang ini pemerintah berhasil mengupayakan untuk mengoptimalkan produksi aspal Buton granular dari 70.000 ton per tahun, misalnya menjadi 350.000 ton per tahun. Maka tetap saja Indonesia masih akan harus terus mengimpor aspal minyak sebesar 650.000 ton per tahun,” katanya.

Indonesia memang bisa mengurangi sebagian impor aspal minyak dari 1 juta ton per tahun menjadi 650.000 ton per tahun. Hanya saja, upaya-upaya tersebut dianggap masih kurang tepat sasaran dan tidak menyentuh inti substansi.

"Nyatanya kita masih tetap menjadi importir aspal minyak. Kita masih belum mampu berswasembada aspal. Aspal Buton pun masih belum mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri," ujarnya.

Menurutnya, peringatan 1 abad aspal Buton seharusnya menjadi tahun bersejarah. Momen tersebut menjadi tonggak nasionalisme bangsa Indonesia dengan menjadikan aspal Buton sebagai pengganti aspal minyak impor.

“Hal itu seharusnya bisa dilakukan dengan visi besar kita sebagai sebuah bangsa yang besar, terutama dengan cadangan deposit aspal Buton yang sangat melimpah. Cadangan ini mampu menggantikan aspal minyak impor yang jumlahnya sebesar 1 juta ton per tahun,” kata La Nyalla.

Editor : Maria Christina

Halaman : 1 2 3