Jejak Richard Hopper, Penemu Lapangan Minyak Terbesar di Indonesia
Saat bersamaan, seorang geolog Belanda, Louis Jean Chretien van Es yang bekerja untuk Dienst van den Mijnbouw in Nederlands Indies (Dinas Pertambangan Hindia Belanda), melakukan penelitian geologi di Sumatera Tengah. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa wilayah Sumatera Tengah merupakan 'kawasan granit lapuk dari zaman pre tersier' yang artinya kecil sekali kemungkinan adanya minyak bumi di daerah tersebut.
Pemerintah kolonial pada 1935 memberikan NPPM sebuah opsi: daerah seluas 600.000 hektare di Sumatera Tengah. Dengan kata lain, hak eksplorasi yang diajukan di Kalimantan Timur ditolak bagi NPPM.
Perusahaan itu tidak antusias menerima tawaran tersebut, namun pada akhirnya mereka mengambil dengan tujuan sebagai pintu masuk kegiatan eksplorasi minyak di Hindia Belanda.
Kedatangan Richard H Hopper
Pada 1939, Socal mengirim Richard Hutchinson Hopper. Ketika itu dia baru saja mendapatkan gelar PhD dari California Institute of Technology. Hopper ditugaskan untuk melanjutkan pekerjaan eksplorasi yang pernah dikerjakan oleh ahli Socal sebelumnya, yaitu Arthur Brown, Oscar van Beveren dan Walter Nygren.
Saat itu NPPM selain mengebor daerah Sumatera Tengah, juga menggarap daerah Jawa Barat. Kegiatan eksplorasi tanpa hasil itu membuat NPPM pun mulai dicap sebagai 'Non Producing Petroleum Maatschappij' (Perusahaan Minyak Tanpa Hasil).
"Tetapi semuanya berubah. Setelah melakukan penelitian, Hopper akhirnya menemukan tanah sekitar Pekanbaru memiliki karakter tanah liat dari zaman pleistosen, berbeda dengan laporan van Es sebelumnya. Dengan data baru ini, kemungkinan besar dapat ditemukan minyak bumi," tulis Rino Surya dalam artikelnya.

Keadaan berbalik drastis bagi NPPM pada Agustus 1939. Sebuah lapangan gas ditemukan di Sebanga, Sumatera Tengah. Ini merupakan pertanda adanya cadangan minyak di daerah konsesi tersebut.
Pada akhir 1941, Hopper membangun anjungan minyak pertama di daerah Minas (sekitar 30 kilometer dari Pekanbaru). Namun, rencana pengeboran tak berjalan mulus. Jepang datang menguasai Singapura sebelum kemudian menduduki Sumatera dan Jawa. Peralatan pengeboran minyak senilai 1 juta dolar AS sudah terpasang, akhirnya tak sempat digunakan.
Editor: Zen Teguh