Anak Tersangka Penganiaya Kepala Sekolah Dikenal Nakal di Sekolah

Jefry Langi, Risnan Labenjang ยท Sabtu, 17 Februari 2018 - 10:04 WIB
Anak Tersangka Penganiaya Kepala Sekolah Dikenal Nakal di Sekolah
Ketua LPA Sulut, Jull Takaliuang mengunjungi Kepala Sekolah SMPN 4 Lolak Astri Tampi di RS Profesor Kandow Manado. (Foto: iNews/Jefri Langi)

MANADO, iNews.id – Anak tersangka penganiayaan kepala sekolah SMP Negeri 4 Lolak, Manado, Sulawesi Utara (Sulut), dikenal nakal dan sering melanggar aturan sekolah. Siswi tersebut sudah sering kali harus membuat surat pernyataan karena perbuatannya.

Hal ini diungkapkan Kepala Sekolah SMP Negeri 4 Lolak Astri Tampi kepada pengurus Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulut yang mengunjunginya di Rumah Sakit (RS) Profesor Kandow Manado, Jumat sore (16/2/2108). Salah satu aturan yang dilanggar siswi P, anak dari tersangka penganiayaan DP (41), membawa telepon seluler (ponsel) ke sekolah meskipun sudah dilarang.

Astri mengatakan, aturan sekolah yang melarang siswa membawa ponsel ke sekolah itu sudah disepakati bersama dengan orang tua siswa. Siswa hanya bisa membawa ponsel jika guru meminta mereka mengerjakan tugas lewat ponsel. Jika ada siswa yang tetap membawanya, maka ponsel harus dititipkan kepada guru.

“Anaknya itu (P) kan selalu bawa handphone sampai empat kali. Kemudian dipanggil orang tua untuk mengambil hp itu, tapi dia nggak mau datang. Suatu waktu, karena sudah lama, mamanya datang, marah-marah minta hp siswa itu sama guru sambil berteriak-teriak bicara kasar,” ungkap Astri Tampi.

Kasus terakhir, saat Astri Tampi dianiaya ayah P, lantaran tidak terima anaknya diminta menandatangani surat pernyataan untuk tidak lagi menyebarkan berita hoax di media sosial Facebook. Siswi tersebut sebelumnya disebut menyebarkan berita hoax dengan menulis status di Facebook bahwa salah satu siswi SMPN 4 Lolak membawa alat tes kehamilan di lingkungan sekolah. Akibat peristiwa tersebut, Astri mengalami luka di bagian kepala, hidung, dan tangan serta memar akibat terkena hantaman meja kaca.


Sementara Ketua LPA Sulut, Jull Takaliuang menyatakan, kasus ini harus ditempatkan secara proporsional. Kasus itu dinilai murni tindak pidana yang dilakukan seorang laki-laki yang kebetulan orang tua murid kepada. Meskipun orang tua murid ingin membela anaknya, penganiayaaan terhadap pendidik tidak bisa dibenarkan.

Dia menegaskan, LPA Sulut mendukung Kepala Sekolah SMP Negeri 4 Lolak Astri Tampi untuk mendapatkan keadilan. Pelaku penganiayaan harus mendapatkan hukuman berat untuk memberikan efek jera. “Jangan sampai pelaku memiliki potensi melakukan hal sama terhadap orang lain. Misalnya anaknya harus pindah sekolah, bisa saja hal yang sama akan terjadi,” papar Jull Takaliuang.

Pelaku penganiayaan Kepala Sekolah SMPN 4 Lolak Astri Tampi sudah ditahan polisi sejak Selasa, 12 Februari 2018, untuk proses hukum lebih lanjut. Tersangka kini mendekam di sel tahanan Polsek Lolak. Polisi telah memeriksa tersangka dan saksi-saksi, termasuk anak dari tersangka.

“Pelaku kami kenakan pasal 351 ayat 2 yaitu penganiayaan berat dengan ancaman lima tahun penjara. Ditambah lagi pasal 356 ayat 2 e, yaitu sepertiga dari hukuman pasal 351,” kata Kapolsek Lolak Suharno.

Sementara pelaku, DP, saat memberikan keterangan kepada polisi mengaku menyesali perbuatannya. Warga Labuang Uki, Kecamatan Lolak, Kabupaten Bolaang Mongondow itu mengungkapkan, saat kejadian, dia memang tidak mampu menahan emosi sehingga menganiaya Kepala Sekolah SMPN 4 Lolak Astri Tampi.


Editor : Maria Christina