9 Gereja Tertua di Indonesia, Nomor 2 Berganti Nama karena Sempat Dilarang

Faqihah Husnul Khatimah · Senin, 26 September 2022 - 18:37:00 WIB
9 Gereja Tertua di Indonesia, Nomor 2 Berganti Nama karena Sempat Dilarang
Gereja tertua di Indonesia, salah satunya Gereja Sion, Jakarta. (Foto: kemdikbud.go.id).

JAKARTA, iNews.idGereja tertua di Indonesia telah berdiri lebih dari ratusan tahun. Sejumlah gereja, bahkan sudah ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah.

Meski telah direnovasi beberapa kali, namun tidak mengubah nilai histori bangunan tersebut. Mana saja gereja yang telah lama berdiri dan memiliki sejarah penting, menarik untuk disimak.

Berikut, daftar gereja tertua di Indonesia:

1. Gereja Tugu, Jakarta

Gereja Tugu berlokasi di kampung tertua di Jakarta, yaitu Kampung Tugu, Jakarta Utara. Bangunan gereja yang berdiri saat ini bukanlah yang pertama kali dibangun. 

Gereja Tugu pertama kali didirikan oleh Pdt. Melchior Leydecker pada 1678. Kemudian, pada 1738 dibangun ulang karena bangunan sebelumnya telah rusak. Berlanjut pada 1740 terjadi tragedi Geger Pecinan yang membuat gereja ini rusak. 

Akhirnya, berkat bantuan tuan tanah Yustinus Vinck, gereja dibangun kembali dan diresmikan pada 27 Juli 1748. 

Gereja Tugu merupakan gereja utama bagi orang-orang Kampung Tugu. Bila berkunjung ke tempat ini, seolah mengunjungi Portugis sebab asal muasal penduduk di kampung ini berasal dari sana. Tradisi Portugis sangat terasa pada hari raya Natal dan Tahun Baru. 

Lokasinya berada di Jalan Raya Tugu Semper Barat No.20, RT. 10/6, Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14130

2. Gereja Sion, Jakarta

Merupakan gereja tertua di Jakarta yang masih digunakan hingga saat ini. Didirikan di Batavia, yakni Oude Koepelkerk pada 1626, khusus diperuntukkan bagi pekerja perusahaan dagang. 

Sejak saat itu Jemaat Portugis memiliki tiga gedung gereja, yaitu Portugese Binnenkerk (Gereja Portugis di dalam Tembok Kota), Portugese Buitenkerk (Gereja Portugis di luar Tembok Kota), dan Gereja Kampung Tugu.

Dilansir dari laman Kemdikbud menyebutkan, Portugese Binnenkerk merupakan bangunan dari batu yang didirikan 1669-1672 dan diresmikan pada 1673 yang pada mulanya dimaksudkan untuk melayani kebaktian berbahasa Melayu sekaligus jemaat Mardijkers berbahasa Portugis. 

Dalam perkembangannya, ternyata gereja tersebut terutama digunakan oleh jemaat berbahasa Portugis, sehingga akhirnya dikenal sebagai Portugese Binnenkerk. Namun, gereja yang berdiri di sekitar Jalan Kopi dekat Jembatan Kali Besar modern ini terbakar habis dan gereja darurat yang terbuat dari bambu dibangun di luar tembok kota, di sisi Timur, terdapat jemaat besar Mardijkers dan Kristen Pribumi.

Dalam perkembangannya, pondok terbuka yang sangat sederhana di luar tembok kota itu dianggap tidak memadai lagi sebagai tempat ibadah orang Mardijkers. Kemudian pada 11 Juli 1692, para pembesar VOC dan gereja di Batavia menyetujui pembangunan De Nieuwe Portugese Buitenkerk (Gereja Portugis baru di luar tembok kota).

Gereja ini dibuat oleh Ewout Verhagen Rotterdam dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Pieter van Hoorn, seorang pensiunan penasihat Pemerintah. Portugeesche Buitenkerk atau Gereja Portugis ini dibangun di sebelah tenggara tembok kota. 

Portugeesche Buitenkerk ini dibangun di atas tanah hibah dari Karel Reiniersz. Pembangunan gereja selesai pada 23 Oktober 1695. Pada hari yang sama, dilakukan khotbah pertama dalam bahasa Belanda oleh Pendeta Theodarus Zas. 

Pada awalnya, gereja ini diperuntukan bagi orang-orang Portugis. Sejak diresmikan penggunaannya sebagai tempat kebaktian 1695, gereja ini telah dua kali berganti nama. 

Pada 1942, nama Gereja Portugis sempat dilarang oleh pemerintah penjajah Jepang dan ditutup selama dua tahun. Sesudah pendudukan Jepang berakhir dan Belanda kembali berkuasa, seorang pendeta Inggris bernama Charles Poire (1946) berhasil membuka kembali gereja ini. 

Pada 1951, gereja ini disebut dengan nama Gereja Sion oleh Pendeta Charles Poire. Selanjutnya, pada 1965 Gereja Sion beroleh nama baru menjadi Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat Jemaat Sion.

Gereja ini tetap lebih dikenal dengan nama Gereja Sion hingga kini. Sejak 1972, Pemda DKI Jakarta menetapkan bangunan Gereja Sion ini menjadi salah satu bangunan bersejarah yang dilindungi Pemda DKI.

Lokasi, tepatnya berada di Jalan Pangeran Jayakarta No.1, RT.9/RW.4, Pinangsia, Kec. Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11110

3. Gereja Ebenhaezer, Maluku

Didirikan pada masa kepemimpinan Raja Sila Djouw Louwis Pati Sila dengan dibantu oleh Belanda dan masyarakat lokal. Prasasti yang tertempel di samping pintu masuk gereja mencatatkan pembangunan gereja ini. 

Prasasti tersebut menjelaskan, “Djouw Louwis Pati Sila Pounja Wactoulni Jgeresia Souda Moulai Badiri Akan Kapada 28 Hari Boulang Mart Taon 1715 : Berhabis Akan Kapada Hari Boulang Taon 1719”. 

Melalui prasasti itu diketahui, Gereja Ebenhaezer dibangun 1715 -1719. Bangunan gereja telah mengalami renovasi dari pertama kali berdiri hingga saat ini.

Lokasinya berada di Titawaai, Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku.

Editor : Kurnia Illahi

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: