Tak Lagi Ada Bioskop, Warga Tanah Serambi Mekkah Nostalgia Film AADC

Antara ยท Senin, 06 Januari 2020 - 18:56 WIB
Tak Lagi Ada Bioskop, Warga Tanah Serambi Mekkah Nostalgia Film AADC
Garuda Theater, bekas gedung bioskop di kawasan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Senin (6/1/2020). (Foto: Antara/Khalis)

BANDA ACEH, iNews.id - Masyarakat Kota Banda Aceh berharap pemerintah setempat kembali menghadirkan bioskop di Ibu Kota Provinsi Aceh tersebut, seperti yang pernah ada sebelum tsunami Aceh 2004 silam.

Warga Banda Aceh, Ruhzi (32) menceritakan sempat menikmati kehadiran bioskop di daerah berjulukan Serambi Mekkah tersebut. Terakhir, dia menonton film pada 2003 bersama teman-temannya saat masih remaja.

"Waktu itu sekitar pukul 14.30 WIB, film kami nonton itu Shaolin Soccer di Gajah Theater di kawasan Kuta Alam Banda Aceh," katanya di Banda Aceh, Senin (6/1/2020).

BACA JUGA: Kapal China Masih Bertahan di Natuna, TNI Tambah Kekuatan

Dia menyebutkan suasana bioskop kala itu terlihat ramai dan kursi terisi semua saat pemutaran film. Tak hanya Gajah Theater, beberapa bioskop lain juga pernah ada di Banda Aceh, seperti Garuda Theater di Biturrahaman, Pas 21 di Pasar Aceh, Jelita Theater dan Merpati Theater di Peunayong.

Pengalaman serupa juga katakan Rizal (40) warga Banda Aceh lain. Dia ikut menikmati film-film nasional yang diputar di daerah Tanah Rencong tersebut.

Dia bercerita, saat remaja sibuk dengan pertandingan turnamen sepak bola antara kampung (Tarkam), sekali pertandingan dia mendapatkan bayaran. Uang yang dia dapat digunakan untuk nonton bioskop bersama rekannya.

"Saat itu sekali main Tarkam itu ada uang Rp150.000, jadi malam-malam langsung nonton bioskop. Film waktu itu Eiffel I'm in Love tahun 2003, termasuk film Aryo Wahab judulnya Biarkan Bintang Menari," katanya.

Rizal berharap pemerintah setempat dapat mengembalikan kejayaan bioskop di provinsi paling barat Indonesia tersebut. Selama ini, ujarnya ia menyempatkan diri menonton bioskop ketika mendapatkan tugas ke luar Aceh.

"Sekarang hasrat untuk nonton film enggak ada lagi karena sudah tidak ada lagi bioskop, kadang kalau ada dinas ke luar (Aceh), ada waktu luang maka singgah di bioskop. Kita berharap ada lagi bioskop di Banda Aceh," ujarnya.

Pengalaman senada juga disampaikan warga Banda Aceh, Fitri (35) mengatakan pernah menonton film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) pada 2002 di Garuda Theater dan juga menonton film Eiffel I'm in Love pada 2003 di Gajah Theater.

BACA JUGA: Tolak Klaim China, Warga: Kita Merdeka, Natuna sudah Indonesia

Saat itu dia masih berstatus mahasiswa semester satu, nonton bersama keponakannya yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

Gambaran dia, ketika itu suasana dalam bioskop riuh, penuh dengan penonton, dan tanpa ada pembatas atau pemisahan antara perempuan dan laki-laki.

"Waktu itu tiket film Effel I'm in Love sekitar Rp8.000 per orang, rata-rata penonton film ini memang SMP dan SMA. Setelah tsunami 2004 sudah enggak ada lagi (bioskop), tutup," kata Fitri.

Lebih lanjut, kata dia, pemutaran film di bioskop juga ada batasan umur. Bagi remaja yang ingin menonton film maka membeli tiket dengan memperlihatkan kartu siswa. Katanya, bagi anak-anak juga disediakan film bernuansa anak seperti film kartun.

"Misalnya kayak keponakan saya itu nonton film Effel I'm in Love itu ada pendampingnya saya. Untuk anak-anak juga ada juga film kartun. Waktu itu ada juga mobil keliling yang memberikan informasi kalau ada pemutaran film baru," ucapnya.

BACA JUGA: Kabar Gembira, Proyek Perkeretaapiaan Papua Dimulai Tahun Ini

Selain itu, kata Fitri, tidak hanya diputar film-film layar lebar nasional, bioskop di Banda Aceh juga menjadi tempat edukasi bagi pelajar. Guru-guru turut membawa muridnya ke bioskop untuk menonton film sejarah Indonesia seperti G-30SPKI, Cut Nyak Dhien, dan film sejarah lainnya.

"Selama ini saya kalau mau nonton pasti ke luar Aceh. Saya berharap ada lagi bioskop di Banda Aceh, karena saya hobi nonton," ucapnya.


Editor : Nani Suherni