Puluhan ABK KM Lambelu di Perairan Maumere Ikut Rapid Test, 2 Diduga Terinfeksi Corona

Joni Nura, Antara ยท Selasa, 07 April 2020 - 20:31 WIB
Puluhan ABK KM Lambelu di Perairan Maumere Ikut Rapid Test, 2 Diduga Terinfeksi Corona
Ilustrasi pemeriksaan kesehatan ABK kapal di perairan Kota Kupang, oleh KKP Tenau Kupang beberapa waktu lalu. (Foto: Antara)

KUPANG, iNews.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka Nusa Tenggara Timur (NTT) telah melakukan rapid test terhadap 22 anak buah kapal (ABK) Pelni KM Lambelu yang berada di perairan Maumere. Hasilnya, tiga orang ABK diduga terinfeksi virus corona atau Covid-19.

Dengan hasil pemeriksaan tersebut, Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo telah mengirimkan surat kepada Direktur PT Pelni di Jakarta, nya tertanggal Selasa (7/4/2020). Isinya menyebutkan larangan kapal penumpang milik Pelni itu untuk bersandar di Pelabuhan Lorens Say Maumere.

“Ketiga orang yang bekerja di kapal itu antara lain satu petugas kantin dan dua anak buah kapal (ABK),” kata Bupati Fransiskus dalam surat yang ditujukan kepada Direktur PT Pelni di Jakarta.

KM Lambelu beberapa waktu lalu sudah berlayar dari Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara). Saat tiba di Nunukan, kapal tersebut menurunkan sejumlah penumpang. Di antara para penumpang itu, terdapat empat orang yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona.

Kapal tersebut mengangkut kurang lebih 233 penumpang dari Kalimantan dan dari Sulawesi, dengan tujuan akhir pelabuhan Lorens Say Maumere, Kabupaten Sikka.

Namun, saat kapal itu tiba di Maumere pada Senin (6/4/2020) malam, Pemkab Sikka melarangnya bersandar di pelabuhan. Pemerintah daerah menegaskan, masih harus memeriksa kondisi kesehatan puluhan ABK melalui rapid test.

Pemeriksaan kesehatan dan rapid test baru dilakukan pada Selasa pagi tadi. Namun, proses pemeriksaan tetap dilakukan di tengah laut tanpa bersandar di Pelabuhan Maumere.

Dari hasil rapid test menunjukkan tiga pekerja yang bekerja di atas kapal itu terindikasi terinfeksi virus corona. Karena itu, hingga kini kapal tersebut masih berlabuh di tengah laut.

Bupati Fransiskus dalam surat yang ditujukan kepada Direktur PT Pelni di Jakarta juga mengatakan, Pemerintah Kabupaten Sikka telah mendapatkan arahan dari gubernur NTT dan kepala Dinas Kesehatan NTT untuk mempertimbangkan alat kesehatan dan tenaga medis untuk mengangani pasien Covid-19.

“Karena itu, kami putuskan kapal itu tak boleh bersandar di Pelabuhan Lorens Say,” ujarnya.

Sementara untuk kepastian apakah tiga pekerja di atas kapal itu benar-benar terindikasi terinfeksi virus corona atau tidak, bupati menyatakan akan menyampaikan secara resmi melalui konferensi pers.


Editor : Maria Christina