Mayat ABK Indonesia Ditemukan di Cold Storage Kapal China, Diduga Dianiaya dan Disiksa

Gusti Yennosa ยท Rabu, 08 Juli 2020 - 21:50 WIB
Mayat ABK Indonesia Ditemukan di Cold Storage Kapal China, Diduga Dianiaya dan Disiksa
Tim gabungan mengevakuasi mayat ABK dari kapal berbendera China di Batam, Kepulauan Riau, Rabu (8/7/2020). (Foto: iNews/Gusti Yennosa)

BATAM, iNews.id – Mayat seorang anak buah kapal (ABK) asal Indonesia yang diduga korban penganiayaan dan penyiksaan, ditemukan dalam kapal ikan berbendera China di perairan perbatasan Indonesia-Singapura, Kepulauan Riau (Kepri), Rabu (8/7/2020). Jasad korban dibungkus selimut dan disimpan di cold storage atau ruang pendingin tempat penyimpanan ikan.

Mayat ABK itu ditemukan tim gabugan Polda Kepri dan TNI dari Lantamal IV Tanjungpinang setelah mengamankan dua kapal ikan asing berbendera China, yakni Kapal Lu Huang Yuan Yu 118 dan Kapal Lu Huang Yuan Yu 117. Kedua kapal diamankan setelah ada laporan bahwa ABK asal Indonesia tewas dianiaya di kapal ikan asing tersebut.

Korban diketahui bernama Hasan Afriadi, warga Lampung. ABK itu ditemukan di Kapal Lu Huang Yuan Yu 118. Jasad korban masih dalam keadaan utuh menggunakan pakaian serta ditutupi selimut.

Kapolda Kepri Irjen Pol Aris Budiman mengatakan, pengamanan dua kapal tersebut berawal dari informasi yang mereka terima, ada ABK Indonesia yang dianiaya hingga tewas. Dari hasil penyidikan sementara, korban diduga tewas akibat penyiksaan dan penganiayaan karena ditemukan banyak luka lebam di tubuhnya.

“Dua kapal ini diamankan karena satu kapal jelas tempat penganiayaan kemudian kapal lain saksi. Di sana warga negara kita yang mengatakan di kapal itu ada mayat,” kata Kapolda Kepri, saat konferensi pers, Rabu (8/7/2020).

Kapolda Kepri Irjen Pol Aris Budiman dan Danlantamal IV Laksamana Pertama Indarto Budiarto menggelar konferensi pers penangakapan dua kapal China di Batam, Kepri, Rabu (8/7/2020). (Foto: iNews/Gusti Yennosa)
Kapolda Kepri Irjen Pol Aris Budiman dan Danlantamal IV Laksamana Pertama Indarto Budiarto menggelar konferensi pers penangakapan dua kapal China di Batam, Kepri, Rabu (8/7/2020). (Foto: iNews/Gusti Yennosa)

Tim juga mengamankan sebanyak 21 orang ABK asal Indonesia. Dari hasil pemeriksaan, dokumen para ABK diduga palsu. Petugas Ditkrimum Polda Kepri masih terus melakukan penyelidikan secara maraton terhadap para ABK dari kedua kapal ikan milik China tersebut yang diduga korban perdagangan manusia.

“Kami menduga mereka korban perdagangan manusia, trafficking, yang dipekerjakan secara paksa di atas kapal. Pengalaman kita selama ini, hampir semuanya tenaga kerja kita, nelayan di kapal-kapal asing itu diperlakukan tidak manusiawi. Dokumen sering kali palsu atau tidak benar izinnya,” kata Kapolda.

Danlantamal IV Laksamana Pertama Indarto Budiarto mengatakan, pengamanan kedua kapal China berawal dari TNI mendapat informasi dari keluarga korban yang tidak bisa menghubungi korban. Diduga, korban tewas karena dianiaya. Tim gabungan kemudian melakukan pengejaran terhadap kedua kapal ikan China tersebut.

“Disinyalir terjadi penganiayaan sehingga ABK itu meninggal,” ujarnya.

Dalam pengejaran, diketahui kedua kapal melintasi Pulau Nipah. Tim gabungan kemudian melakukan penyekatan. Beruntung kedua kapal berhasil diamankan. Setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan jasad korban yang masih disimpan di ruangan pendingin.

“Korban kami temukan di ruang pendingin, untungnya belum dibuang sehingga barang buktinya ada. Nanti akan didalami pihak Polri. Yang jelas dua kapal ini disita untuk pemeriksaan lebih lanjut,” kata Laksamana Pertama Indarto Budiarto.

Selain mengamankan dua kapal ikan asing, 21 orang ABK asal Indonesia, tim gabungan juga mengamankan 18 orang warga negara asing (WNA) Filipina. Saat ini kedua kapal masih dalam pemeriksaan tim gabungan TNI-Polri di Dermaga Lanal Batam. Sementara jasad korban ABK dibawa ke Rumah Sakit Bhyangkara Polda Kepri untuk divisum.


Editor : Maria Christina