Kasus KTP Palsu TKA China, Polda Sultra Periksa 10 Saksi

Febriyono Tamenk, Antara ยท Rabu, 20 Mei 2020 - 13:33 WIB
Kasus KTP Palsu TKA China, Polda Sultra Periksa 10 Saksi
Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Sultra, Kombes Pol La Ode Aries El Fatar. (Foto: Antara)

KENDARI, iNews.id - Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) masih menyelidiki kasus dugaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) palsu milik seorang tenaga kerja asing (TKA) asal China berinisial W. Hingga saat ini, polisi telah memeriksa 10 orang saksi.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Sultra Kombes Pol La Ode Aries El Fatar mengatakan, ke-10 saksi yang diperiksa, termasuk perangkat desa yang ada di Kabupaten Konawe Utara dan masyarakat.

"Kami juga memeriksa pelapor dan dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Kendari," kata La Ode Aries El Fatar di Kendari, Rabu (20/6/2020).

Namun, La Ode Aries El Fatar tidak merinci identitas 10 saksi yang diperiksa dan diinterogasi. Dia hanya menjelaskan, berdasarkan hasil interogasi istri WNA berinisial W, KTP palsu tersebut dibuat untuk memberikan perlindungan kepada calon anaknya nanti.

"KTP ini dimohonkan oleh istri W. Menurut pengakuan istri W, W ini tidak tahu-menahu dengan KTP palsu ini. Dia bermohon hanya untuk memberikan ataupun untuk memberikan perlindungan kepada hubungan suami istri mereka terhadap anaknya nanti," katanya.

Sementara dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil), ada tiga orang yang diperiksa. Salah satunya kepala Dinas Dukcapil Kota Kendari. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, KTP tersebut dipesan oleh sang istri yang dibantu oleh oknum pegawai dengan membayar uang Rp10 juta.

Polisi saat ini juga masih mencari tahu apakah KTP diduga palsu dengan nama Wawan Saputra Razak tersebut pernah digunakan W untuk membuat rekening bank atau akta perusahaan. Untuk mengetahui hal ini, Polda Sultra telah menyurati Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

"Kami sudah menyurati BI, Kemenkumham untuk menemukan apakah nama Wawan ini pernah membuat account di salah satu bank, baik itu bank pemerintah pelat merah maupun bank swasta. Kami juga menanyakan, apakah Wawan ini pernah membuat perusahaan nama W ini. Sampai sekarang belum ada balasan," katanya.

Dia juga mengatakan fisik dari KTP tersebut belum ditemukan oleh pihaknya. Sebab, dari pengakuan istri W, KTP tersebut telah dibakar. Tindakan itu dilakukannya setelah melihat pemberitaan terkait suaminya ramai di media sosial.

"Karena kami belum temukan penggunaannya, kami belum bisa menyimpulkan siapa-siapa yang bertanggung jawab terhadap perbuatan ini. KTP palsu ini juga belum digunakan. Kalau kita mengarahkan kepada tindak pidana kependudukan juga, ini tidak masuk dalam sistem kependudukan," katanya.

Namun, dia menegaskan dalam dugaan kasus KTP palsu tersebut, istri W dan oknum di Dinas Dukcapil Kota Kendari berpotensi dapat dijadikan tersangka. Pasalnya, keduanya diduga terlibat dalam kasus suap-menyuap.

"Mereka (oknum Dukcapil) terindikasi bisa sebagai tersangka karena mereka punya pekerjaan yang tidak seharusnya dilakukan. Apalagi mereka melakukan ini dengan adanya penyuapan. Kasus penyuapan ini yang akan kami tonjolkan nanti," katanya.

Dia menambahkan, Polda Sultra masih terus menangani kasus tersebut. Sejauh ini, polisi masih fokus untuk pemeriksaan istri W. Sementara untuk pemeriksaan W, polisi masih harus menemukan bukti-bukti dulu.

"Untuk kasus Mr W, kami belum bisa Kalau istrinya, sudah bisa mengarah. Makanya agar kami bisa menjerat Mr W, kami harus menemukan KTP ini pernah digunakan. Kami mencari apakah ada account dibuka di salah satu bank ataupun perusahaan dibuka dengan nama di KTP itu," katanya.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Sultra, Kombes Pol La Ode Aries El Fatar.


Editor : Maria Christina