Ibu Korban Sering Mimpikan Putrinya, Makam Mahasiswi Gantung Diri di Sultra Dibongkar

Israil Yanas ยท Selasa, 11 Februari 2020 - 20:09 WIB
Ibu Korban Sering Mimpikan Putrinya, Makam Mahasiswi Gantung Diri di Sultra Dibongkar
Ilustrasi gantung diri. (AFP)

KOLAKA, iNews.id – Makam seorang mahasiswi Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara (Sultra), yang tewas pada 14 September 2019 lalu, dibongkar untuk diautopsi, Selasa (11/2/2020). Langkah ini diambil Polda Sultra atas permintaan keluarga korban yang menduga kuat korban tewas karena dibunuh, bukan bunuh diri.

Peti Vera (18), mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara (Unusra) semester tiga di Kabupaten Kolaka Utara itu sebelumnya ditemukan tewas dengan posisi tergantung di Desa Tojabi, Kecamatan Lasusua, Kolaka Utara. Polisi menduga korban gantung diri.

Namun, keluarga tidak percaya begitu saja. Mereka menilai dari fakta-fakta yang ditemukan, ada kejanggalan dalam kematian korban. Keluarga menduga Peti Vera korban pembunuhan.

Menurut kakak korban, Hasrun (28), warga Pohu, Keamatan Pohu, kecurigaan keluarga menguat setelah ibu korban Undu (46), sering kali didatangi almarhum putrinya dalam mimpi. Dalam mimpi itu, Peti Vera mengatakan, dirinya dibunuh, bukan gantung diri.

“Ibu saya sering memimpikan adik saya, katanya dia meninggal karena dibunuh, bukan karena gantung diri,” kata Hasrun.

Untuk mengungkap misteri kematian Peti Vera, Tim Forensik Polda Sultra setuju mengautopsi jenazah korban. Pembongkaran makam almarhum Peti Vera di pekuburan umum Desa Pohu, Kecamatan Pohu, Kolaka Utara, berlangsung selama dua jam.

Dari pantauan, ibu korban, Undu (46), pingsan saat makam anak keenamnya dari tujuh bersaudara itu dibongkar. Keluarga korban juga tampak hadir saat pembongkaran makam dan proses autospi.

Dokter Forensik Polda Sultra, Kompol Mauluddin mengatakan, setelah melakukan autopsi jenazah korban, mereka tidak menemukan tanda kekerasan di tubuhnya. Dari hasil autopsi, tim menyimpulkan kematian almarhum Peti Vera murni bunuh diri.

“Korban tewas karena bunuh diri, akibat jeratan tali di lehernya,” kata Mauluddin.

Sementara kuasa hukum korban, Rahman Paulani mengaku tidak puas dengan hasil autopsi. Fakta-fakta yang mereka kumpulkan tidak sesuai dengan keputusan Tim Forensik Polda Sultra. “Hasil autopsi berbanding 180 derajat dari fakta-fakta yang kami peroleh,” kata Rahman Paulani.


Editor : Maria Christina