Deretan Kerajaan Kristen di Indonesia, Ada yang Didirikan Pasangan Suami Istri
Menurut Robertus Padtbrugge, saat ia berada di Manado pada 1677, penduduk Kerajaan Manado adalah orang Sangihe. Menurutnya, orang Sangihe sudah ada di Manado Tua sejak 1332 dan merupakan penduduk pribumi pertama di Kerajaan Manado. Senada dengan Robertus Padtbrugge, misionaris Nicolaas Graafland mengatakan bahwa penduduk Kerajaan Manado berasal dari suku Sangihe.
Raja yang pernah memimpin Kerajaan Manado, antara lain adalah Raja Don Fernando (1644) yang merupakan raja yang terkenal dan Raja Loloda Mokoagouw (1664-1670) sebagai raja terakhir.
Kerajaan Manado pernah memainkan peranan penting dalam perniagaan saat bangsa Portugis dan Spanyol menjadikan Kerajaan Manado sebagai gudang penyimpanan barang yang mereka bawa maupun yang dibeli dari penduduk pribumi.
Kerajaan Sikka merupakan salah satu kerajaan Kristen yang terletak di Nusa Tenggara Timur. Kerajaan Sikka bercorak agama Katolik yang terpengaruh dari bangsa Portugis.
Dalam perjalanannya, Kerajaan Sikka mengalami beberapa perubahan, pada 1875, ketika kekuasaan berpindah dari Portugis ke Belanda. Belanda menerapkan kebijakan Devide et Impera dan membagi kerajaan Sikka menjadi tiga bagian, yaitu Kerajaan Sikka (Kerajaan Sikka Besar), Nita, dan Kangae (Kerajaan Sikka Kecil).
Solusi ini tidak bertahan lama karena Pemberontakan Teka terjadi pada tahun 1908, yang mengembalikan Kerajaan Sikka menjadi satu.
Dikutip dari website resmi Pemerintah Kabupaten Sikka, terdapat raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Sikka. Raja yang memerintah di zaman Portugis, antara lain Raja Don Alesu Ximenes da Silva, Ratu Dona Ines (putri Raja Don Alesu Ximenes da Silva).
Kemudian Raja Djudje Mbako I, Raja Prispin da Silva, Raja Don Luis Mbia da silva, dan Raja Thomas Mbo I. Sedangkan raja yang bertakhta pada zaman Belanda, antara lain Raja Andreas Djati da Silva (1874-1898).
Lalu Raja Mbako II (1898-1902), Raja J. Nong Meak da Silva (1902-1922), Raja Don Thomas Ximenes da Silva (1922-1947), Raja Don Thomas Ximenes da Silva (1947-1954), dan terakhir, Raja P.C.X. da Silva (1954-1958).
Editor: Candra Setia Budi