6.000 Babi di Mentawai Sumbar Mati sejak Januari, Diduga karena Demam Babi Afrika

Okezone, Rus Akbar ยท Senin, 24 Februari 2020 - 12:43 WIB
6.000 Babi di Mentawai Sumbar Mati sejak Januari, Diduga karena Demam Babi Afrika
Wabah virus demam babi Afrika menyebar ke Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumbar, dan telah mengakibatkan 6.000 ternak babi mati. (Foto: Ilustrasi/Dok iNews.id)

MENTAWAI, iNews.id — Kasus kematian ternak babi juga terjadi di Sipora, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar). Sejak Januari sampai Februari 2020, sedikitnya 6.000 babi mati yang diduga karena terserang virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika.

Data dari Pemkab Mentawai, di Sipora ada dua kecamatan, yakni Sipora Utara dan Selatan yang terdiri atas 13 desa. Sembilan desa di antaranya terkena wabah penyakit babi tersebut, yakni Desa Matobe, Mara, Tuapeijat, Sipora Jaya, Bukit Pamewa, Goiso Oinan, Betu Monga, Bosua, dan Saureinuk.

“Pertama sekali diketahui ada babi mati pada Minggu 12 Januari di Desa Tuapeijat. Setelah kami mendapat informasi, pemerintah langsung mendatangi lokasi,” kata Wakil Bupati Kepulauan Mentawai Kortanius Sabeleake, Senin (24/2/2020).

Menurut Korta, penyebab kematian itu diduga berasal daging babi yang didatangkan para pedagang dari luar Kabupaten Kepulauan Mentawai, menjelang Natal akhir tahun lalu. Daging-daging tersebut dibawa menggunakan kapal ikan, dimasukkan dalam fiber agar tidak dicek di Balai Karantina Pertanian.

“Penyakit itu hanya menyerang babi, tidak menular ke hewan lain, apalagi manusia,” ujarnya.

Pemkab Mentawai saat ini terus berusaha mencegah penyebaran penyakit babi tersebut ke Pulau Siberut dan Pagai Utara Selatan. Salah satunya dengan melarang pengiriman daging babi segar dari Sipora ke kedua pulau tersebut.

“Kami juga mengimbau kepada masyarakat jangan takut kalau mau mengonsumsi daging babi, asalkan terlebih dulu dimasak di atas suhu 70 derajat Celsius. Sebab, virus penyakit babi tersebut akan mati kalau sudah dimasak,” katanya.


Editor : Maria Christina