FLORES TIMUR, iNews.id – Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang meningkat. Pada Rabu (22/4/2026) sore pukul 17.03 WITA, gunung api tersebut meletus dengan melontarkan kolom abu setinggi kurang lebih 1.600 meter di atas puncak.
Hingga saat ini, status gunung yang terletak di Kabupaten Flores Timur tersebut masih berada pada Level II (Waspada) dengan suara gemuruh yang masih terdengar dari arah kawah.
Berdasarkan data dari Pos Pengamatan Gunung Api, kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal yang condong mengarah ke Barat Daya. Erupsi ini terekam jelas di seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 7.4 mm dan durasi sementara sekitar 2 menit 24 detik.
"Tinggi kolom abu teramati kurang lebih 1.600 meter di atas puncak atau sekitar 3.184 meter di atas permukaan laut," tulis laporan resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Radius Aman 4 Kilometer
Menyusul terjadinya erupsi disertai suara gemuruh ini, masyarakat di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki maupun wisatawan dilarang keras melakukan aktivitas apa pun dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi.
Pihak berwenang juga meminta warga di desa-desa terdampak seperti Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan.
Waspada Lahar Hujan dan Abu Vulkanik
Masyarakat diingatkan untuk mewaspadai potensi banjir lahar hujan, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi di sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung.
Selain itu, bagi warga yang mulai terdampak hujan abu, sangat disarankan untuk menggunakan masker pelindung.
"Masyarakat yang terdampak hujan abu agar memakai penutup hidung dan mulut guna menghindari bahaya abu vulkanik pada sistem pernapasan," imbau petugas pos pengamatan.
Pemerintah Daerah Kabupaten Flores Timur terus melakukan koordinasi intensif dengan Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki di Desa Pululera serta Badan Geologi di Bandung untuk memantau fluktuasi aktivitas vulkanik.
Masyarakat diimbau agar hanya mengikuti arahan resmi dari pemerintah setempat dan tidak mempercayai isu-isu atau berita hoaks yang sumbernya tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Editor : Kastolani Marzuki
Artikel Terkait