Ratusan emak-emak memblokade jalan di Kota Batam memprotes krisis air bersih yang sudah berlangsung tiga bulan. (Foto: iNews TV)

BATAM, iNews.id – Ratusan warga yang didominasi emak-emak dari Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Kepulauan Riau, menggelar aksi unjuk rasa dan memblokade jalan menuju kawasan Nongsa Digital Park (NDP). Aksi ini dipicu krisis air bersih yang melanda permukiman mereka selama lebih dari tiga bulan. 

Membawa peralatan rumah tangga seperti gayung, botol galon, timba, hingga ember, warga menduga mengeringnya Waduk Nongsa dipicu oleh aktivitas pembangunan kawasan industri data center di lokasi tersebut. 

Selama krisis berlangsung, pasokan bantuan air menggunakan mobil tangki dari pengelola Waduk Duriangkang dinilai sangat tidak mencukupi. Kondisi ini memaksa warga merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air bersih dari luar. 

Pengeluaran warga membengkak hingga Rp150.000–Rp200.000 per minggu hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Padahal, tagihan normal bulanan air bersih warga biasanya hanya berkisar Rp45.000 per bulan. Ironisnya, meski air mati total, warga mengaku tetap menerima dan harus membayar tagihan bulanan.

"Kami terpaksa beli air dari luar karena bantuan tangki tidak cukup. Padahal tiap bulan tagihan air tetap keluar padahal air tidak mengalir sama sekali ke rumah," ungkap Ketua RT 03/RW 02 Sambau, Andi Lala, Selasa (6/10/2026). 

Menanggapi tuduhan warga, BP Batam membantah keras bahwa proyek data center menjadi penyebab utama krisis air bersih di Kelurahan Sambau. 

Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano menjelaskan, proyek data center saat ini masih dalam tahap awal konstruksi dan membutuhkan konsumsi air yang sangat minim.


Editor : Kastolani Marzuki

Halaman Selanjutnya
Halaman :
1 2
BERITA POPULER
+
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network