Warga Ketapang Selamatkan 1 Bayi Orang Utan Tanpa Induk

Gusty Eddy ยท Jumat, 13 Desember 2019 - 15:52 WIB
Warga Ketapang Selamatkan 1 Bayi Orang Utan Tanpa Induk
Aben, bayi orang utan berumur kurang dari 1 tahun yang diselamatkan warga Desa Limpang, Jelai Hulu, Ketapang, Kalbar. (Foto: iNews/Gusti Eddy)

KETAPANG, iNews.id –  Warga Kecamatan Jelai Hulu, Ketapang, Kalimantan Barat menyelamatkan seekor bayi orang utan, Sabtu (7/12/2019). Satwa langka itu ditemukan dengan kondisi tanpa induk di tepi hutan tanaman ndustri (HTI) Desa Limpang.

Menyadari dia menemukan satwa dilindungi, warga bernama Idarno menyerahkan orang utan berusia kurag dari satu tahun tersebut kepada kepala desa. Kepala desa setempat kemudian melaporkan kasus penemuan ini ke lembaga swadaya masyarakat (LSM) IAR Indonesia dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar.

Laporan itu diteruskan kepada tim Orangutan Protection Unit (OPU) IAR Indonesia untuk dilakukan verifikasi. Tim gabungan Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Kalbar Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang dan IAR Indonesia menerjunkan tim untuk menjemput bayi orang utan tersebut pada Senin (9/12/2019).

Kepala Desa Limpang, Rono Reagen mengatakan perjumpaan orang utan dengan warga masyarakat di wilayahnya tak bisa dihindari. Sebanyak 70 persen orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) diketahui hidup di luar kawasan konservasi dan dekat dengan permukiman warga.

Dia mengaku warga di wilayah tersebut sudah memahami bahwa orang utan termasuk satwa dilindungi. Menurutnya masyarakat sudah paham bagaimana alur pelaporan jika menemukan satwa liar. “Sebelumnya saya juga sudah mengimbau kepada warga di sini mengenai satwa-satwa apa saja yang tidak boleh diburu dan dipelihara oleh warga,” katanya.

Untuk menunggu pihak berwenang datang, Rono mengatakan bayi orang utan jantan itu dititipkan ke seorang warga untuk dirawat. Bayi orang utan itu kemudian diberi nama Aben sesuai dengan nama perawatnya.

Bayi orang utan itu mengalami demam saat ditemukan oleh warga, tetapi masih aktif dan memiliki nafsu makan. Selama perawatan sementara, Aben diberi susu formula, diberi makan nasi, dan buah-buahan. Aben juga dirawat di dalam rumah dengan keranjang dan selimut.

Aben saat ini sudah dibawa ke pusat konservasi IAR Indonesia di Desa Sungai Awan, Kabupaten Ketapang yang memiliki fasilitas pusat rehabilitasi satwa. Orang utan itu akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Aben akan menjalani masa karantina selama delapan minggu sebelum bergabung dengan orang utan lainnya.

Selama masa karantina tersebut, Aben akan menjalani pemeriksaan secara detail oleh tim medis IAR Indonesia. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan Aben tidak membawa penyakit berbahaya yang bisa menular ke orang utan lainnya di pusat rehabilitasi IAR Indonesia.

Sementara itu pihak IAR Indonesia mengapresiasi inisiatif masyarakat untuk melaporkan satwa yang dilindungi kepada pihaknya. “Kami mengucapkan terima kasih kepada warga yang mengambil tindakan yang tepat dengan melaporkan perjumpaan ini kepada pihak yang berwenang. Kami senang ada peningkatan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai orang utan,” ujar Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L Sanchez.

Dia mengatakan jumlah orang utan yang diselamatkan BKSDA dan IAR tahun 2019 menurun jauh dibanding tahun-tahun sebelumnya. Karmele mengatakan IAR Indonesia sejak lama merangkul masyarakat dalam menyelamatkan satwa-satwa liar. Dia mengatakan BKSDA dan IAR Indonesia sadar bahwa masyarakat harus dilibatkan dalam penyelamatan satwa.

“Kami sudah lama melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat dalam penyelamatan satwa liar. Dan Ketapang menjadi contoh yang patut dalam hal pelibatan masyarakat sebagai ujung tombak penyelematan satwa liar,” katanya.


Editor : Rizal Bomantama