Sekeluarga Disebut Positif Covid-19, Ibu di Kobar Ini Marah karena Belum Dijemput Petugas

Sigit Dzakwan Pamungkas ยท Rabu, 03 Juni 2020 - 21:22 WIB
Sekeluarga Disebut Positif Covid-19, Ibu di Kobar Ini Marah karena Belum Dijemput Petugas
Rumah NS, warga Desa Sungai Kapitan, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalteng, yang dinyatakan positif Covid-19. (Foto: iNews/Sigit Dzakwan)

KOTAWARINGIN BARAT, iNews.id - Seorang warga RT 05, Desa Sungai Kapitan, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng), marah karena belum juga dijemput oleh Tim Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 untuk diisolasi. Padahal, dirinya bersama lima anggota keluarganya yang lain telah dinyatakan positif Covid-19.

Ibu berinisial NS itu mengatakan, Gugus Tugas Covid-19 Kobar sudah dua hari lalu atau tepatnya Senin, 1 Juni 2020 malam menyampaikan dia, anak-anak dan saudaranya positif Covid-19. Mereka yakni, RK (19), RG (10), NN (15), RM (10) dan FR (4). Sementara ibunya bahkan telah meninggal dunia karena terinfeksi virus corona.

“Ibu saya sudah meninggal karena Covid-19 dan sudah dikuburkan pada Senin malam lalu. Sekarang saya dan anak-anak diumumkan positif Covid-19, tapi belum dijemput dan dikasih kabar sama sekali,” ujar NS saat dikunjungi warga yang mengantar bantuan sosial, Rabu (3/6/2020) pagi.

NS juga saat ini merasa dikucilkan bersama anak-anaknya. Pasalnya, informasi tentang suaminya yang meninggal karena Covid-19 dan keluarganya yang tertular virus corona sudah menyebar ke mana mana. NS merasa dijauhi orang-orang. Namun, dia bersama keluarga hanya bisa pasrah berdiam diri di dalam rumah.

Karena itu, dia berharap agar Gugus Tugas Covid-19 Kobar segera menjemput mereka sekeluarga untuk diisolasi. Jika mereka lebih cepat dirawat, NS yakin dirinya dan keluarga yang lain akan lebih cepat sembuh.

“Jangan lah dilambat-lambatkan. Kalau memang saya positif, ya ditunjukin suratnya dan saya bersama keluarga cepat diatasi,” ujarnya.

Sementara Kepala Puskesmas Kumai, dr Abimanyau yang dikonfirmasi terkait hal ini mengatakan, pada Selasa 2 Juni 2020, petugas Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Kapitan sudah berencana mengevakuasi keluarga NS bersama sukarelawan setempat. Namun, evakuasi batal karena ada kendala di lapangan.

“Kami sudah pinjami alat pelindung diri (APD) juga. Namun, info di lapangan ada kendala. Tapi malam ini juga saya koordinasikan dulu sama Pustu Desa Kapitan. Jika memang belum, Insya Allah akan saya tangani,” ujar dr Abimanyu saat dihubungi, Rabu (3/6/2020).

Sementara Kepala Pustu Desa Kapitan, Masdan, tidak bisa dikonfirmasi terkait rencana evakuasi keluarga yang disebut telah positif Covid-19 itu. Ponselnya tidak bisa dihubungi.

Sebelumnya, informasi tentang kondisi pasien positif Covid-19 di Kobar ini juga tersebar luas di Facebook. Berawal dari postingan akun @Muhammad Asary yang memposting video ada pasien positif Covid-19 yang marah-marah. Postingan pada Rabu 3 Juni 2020 sekira pukul 18.00 WIB itu sudah dibanjiri komentar.

Dalam postingannya, dia juga menyayangkan gugus tugas yang belum juga mengevakuasi para pasien positif Covid-19 dari rumahnya untuk dievakuasi dan mendapat perawatan. Sementara mereka sudah menunggu tindakan dari pihak pemerintah hingga di tingkat desa untuk turun tangan.

"Mereka sudah dicap sebagai pasien positif Covid-19 dan sudah tiga hari ini mereka melakukan isolasi mandiri. Tapi, tidak ada satu pun dari pihak pemerintah khususnya yang menanggulangi Covid-19 di Kobar dan Desa Sungai Kapitan membantu mereka. Sampai hari ini mereka tidak mendapatkan perhatian," katanya.

Untuk membantu meringankan beban keluarga itu, sejumlah sukarelawan yang tergabung dalam Pemuda Kapitan Peduli menyalurkan donasi tahap kedua. Mereka juga berharap agar pemerintah daerah segera mengevakuasi keluarga itu agar segera mendapat perawatan.

"Kami jujur merasa miris dengan kondisi mereka. Belum lagi secara psikologis mereka sudah tertekan karena tekanan dari sana sini jika mereka pasien positif Covid-19. Sementara kami para relawan hanya sebatas memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka,” katanya.


Editor : Maria Christina