Pilu, Bocah Basah Kuyup Semalaman Tunggu Ayahnya, Ternyata Sudah Tewas Terseret Banjir

Antara ยท Senin, 26 Oktober 2020 - 15:03:00 WIB
Pilu, Bocah Basah Kuyup Semalaman Tunggu Ayahnya, Ternyata Sudah Tewas Terseret Banjir
Jenazah korban terseret arus banjir saat ditemukan di salah satu perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Mentaya Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur, Minggu (25/10/2020). (Foto: Polsek Mentaya Hulu)

SAMPIT, iNews.id - Kisah memilukan terjadi saat banjir di Desa Santilik Kecamatan Mentaya Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah (Kalteng). Seorang bocah berusia delapan tahun ditemukan di perkebunan kelapa sawit dalam kondisi basah kuyup dan memprihatinkan sedang menunggu sang ayah yang ternyata meninggal dunia akibat terseret banjir.

Kapolsek Mentaya Hulu, Iptu Roni Paslah mengatakan, warga menemukan anak itu dalam kondisi basah kuyup saat melintas di Desa Santilik, Minggu (25/10/2020). Ternyata, bocah tersebut sedang menunggu ayahnya yang tak kunjung menemuinya.

"Setelah dicari, ternyata ayahnya sudah meninggal dunia tidak jauh dari lokasi sang anak," kata Iptu Roni Paslah di Sampit, Senin (26/10/2020).

Roni mengatakan, informasi dihimpun, bocah tersebut bersama sang ayah bernama Sami Amekan (20), hendak pulang ke rumah mereka di mes karyawan di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Parenggean. Mereka baru berkunjung dari rumah kerabat mereka di Kruing Estate, Sabtu (24/10/2020) pukul 21.30 WIB.

Saat hendak melintas di lokasi kejadian, ternyata jalan sedang terendam banjir dengan arus cukup deras akibat hujan mengguyur kawasan itu. Korban kemudian turun dari sepeda motor untuk memeriksa jalan yang bisa dilalui sementara sang anak tetap berada di dekat sepeda motor.

Korban langsung terseret arus banjir karena diduga terpeleset dan arus banjir yang cukup deras. Saat itu sang anak masih berada di posisinya dan tidak mengetahui persis kejadian yang merenggut nyawa sang ayah.

Sepanjang malam, bocah malang tersebut tetap berada di tempat itu menunggu sang ayah yang tak juga kunjung kembali. Dia bertahan di tengah perkebunan yang gelap gulita tersebut.

Pada Minggu (25/10/2020) sekitar pukul 06.00 WIB, seorang warga bernama Ahmad Watijan melintas di lokasi tersebut dan menemukan bocah malang tersebut. Saat ditanya, bocah itu menceritakan kejadian yang dialami dirinya bersama sang ayah.

Kejadian itu kemudian dilaporkan ke pihak perusahaan. Saat dilakukan pencarian, ayah bocah malang itu ditemukan sudah meninggal dunia di sebuah parit, sekitar 20 meter dari lokasi kejadian.

Jenazah korban kemduian dievakuasi ke puskesmas untuk diperiksa. Selanjutnya jenazah diserahkan kepada pihak keluarga.

"Berdasarkan keterangan dokter setelah dilakukan visum, di tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan," kata Roni Paslah.

Editor : Maria Christina