Pengungsi di Labuhan Pandeglang Mulai Terserang ISPA dan Gatal-Gatal

Antara ยท Jumat, 04 Januari 2019 - 12:02 WIB
Pengungsi di Labuhan Pandeglang Mulai Terserang ISPA dan Gatal-Gatal
Badut dari Aku Badut Indonesia menghibur anak korban bencana tsunami sebagai bentuk trauma healing bagi pengungsi di Labuan, Pandeglang, Banten, Kamis (27/12/2018). (Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay)

PANDEGLANG, iNews.id – Masyarakat korban banjir di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, mulai terserang infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan gatal-gatal. Penyakit ini menyerang warga akibat kondisi lingkungan tidak sehat karena mereka tinggal di lokasi pengungsian.

"Kami terpaksa berobat ke pos pelayanan pengobatan di Kantor Kecamatan Labuan karena mengalami sesak juga gatal-gatal," kata Heni (55), warga perumahan Cipunten Agung, Labuan, Jumat (4/1/2019).

Dia mengungkapkan, ada 300-an kepala keluarga (KK) di kompleks perumahannya. Mereka rata-rata yang juga mengeluhkan gejala gangguan kesehatan yang sama.

Saat ini, air banjir belum surut dan masih menggenangi permukiman warga. Kondisi ini sudah berlangsung selama tiga hari sejak Sungai Cipunten meluap dan merendam permukiman warga sampai di bagian genting.

"Kami berharap banjir segera surut dan bisa menempati rumah," ucapnya.

Hal senada disampaikan Bayu (55) warga Teluk Labuan Pandeglang. Dia mengaku dirinya terserang penyakit gatal-gatal akibat terendam banjir. Saat ini dia sudah kembali ke rumah usai mengungsi saat terjadi bencana tsunami.

“Belum selesai membersihkan lumpur akibat tsunami, kami kembali diterjang banjir. Mungkin penyakit gatal-gatal ini karena air banjir," ujarnya.

Bidan Puskesmas Labuan Nining menuturkan, saat ini penyakit yang dialami masyarakat di pengungsian belum menimbulkan kejadian luar biasa (KLB). Mereka para penderita penyakit ISPA dan gatal-gatal bisa dilayani di pos-pos kesehatan baik milik relawan maupun Puskesmas setempat.

"Saya kira penyakit itu akibat kondisi lingkungan kurang sehat setelah dilanda banjir dan tinggal di pengungsian," tuturnya.


Editor : Donald Karouw