Pemerintah Thailand Pulangkan 6 Nelayan Anak di Bawah Umur Asal Aceh

Nani Suherni ยท Jumat, 17 Juli 2020 - 09:32 WIB
Pemerintah Thailand Pulangkan 6 Nelayan Anak di Bawah Umur Asal Aceh
Enam nelayan anak di bawah umur tengah menjalani rapid rest di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis, (16/7/2020). (Foto: Humas BPPA)

JAKARTA, iNews.id - Pemerintah Thailand memulangkan enam nelayan asal Aceh dari 57 orang yang ditangkap di Perairan Andaman pada 10 Maret dan 21 Januari 2020 lalu, ke Indonesia. Mereka dipulangkan karena masih anak di bawah umur.

Enam anak buah kapal (ABK) anak tersebut bersama 51 ABK Kapal Motor (KM) Tuah Sultha dan KM Perkasa Mahera dan Vothus lainnya ditangkap Pemerintah Thailand di perairan Andaman akibat pelanggaran batas wilayah. Namun, setelah menjalani proses peradilan, keenam anak di bawah umur itu dibebaskan.

Adapun keenam anak di bawah umur yang sudah dipulangkan tersebut, di antaranya Mawardi (16), asal Kampung Mata Bunga, Desa Sejatera, Aceh Timur; Iqbal (16) asal Kampung Leugeu Baru, Desa Melati, Perurlak, Aceh Timur; dan Abdul (16) asal Kampung Payah Pengat, Desa Dama Pulau.

Kemudian, M Israkil Kasta (17) asal Pulo Blang Mang; Hamdan (17) asal Puedawa Rayeuk; dan Mustafa (17) yang berasal dari Idi Cut. Sementara, 51 satu ABK asal Aceh lainnya masih menjalani proses hukum hingga saat ini di Thailand.

Mereka tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (16/7/2020) dengan menggunakan pesawat Garuda nomor penerbangan GA 867 ETA, sekitar pukul 17.45 WIB. Mereka dijemput Pemerintah Aceh melalui Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA).

Kepala BPPA Almuniza Kamal mengatakan, penjemputan dilakukan tim BPPA yang dipimpin Kepala Subbid Hubungan Antar Lembaga (HAL) Teuku Syafrizal. Sebelumnya, tim telah melakukan koordinasi dengan pihak Kementerian Luar Negeri (Kemendagri).

"Sesampainya di bandara, mereka semua diarahkan untuk mengisi kartu kewaspadaan kesehatan, dan rapid test yang dibantu oleh pihak keamanan terkait. Setelah itu mereka diizinkan pulang," kata Almuniza Kamal dalam keterangan tertulis, Jumat (17/7/2020).

Selama di Jakarta, mereka akan berada di bawah pengasuhan sementara pihak BPPA dan menginap di Rumah Singgah Provinsi Aceh di Jakarta. Selanjutnya mereka akan dipulangkan ke Aceh, besok, Sabtu (18/7/2020).

Almuniza juga menjelaskan, Pemerintah Thailand memulangkan 6 ABK anak di bawah umur itu karena dianggap masih memiliki masa depan yang panjang. Mereka juga tidak pernah melanggar hukum Thailand dan memperoleh penilaian baik dari rumah penitipan anak.

"Karena itu, pihak Imigrasi Thailand melakukan transfer repatrian dari Phang Nga ke Bangkok untuk karantina mandiri selama 14 hari yang telah selesai pada tanggal 9 Juli 2020 lalu," kata Almuniza.

Keenam anak tersebut mengikuti persidangan dalam waktu yang berbeda karena mereka tidak satu kapal. Tiga anak dari KM Perkasa Mahera dan Vothus, dari total 33 nelayan, mengikuti persidangan 16 Maret 2020, di Pengadilan Negeri Phang Ngah, Thailand. Sedangkan 30 nelayan lagi ikut persidangan pada 13 Maret 2020.

Namun, ke-30 nelayan tersebut mengakui kesalahannya di persidangan, karena masuk ke perairan Thailand tanpa ada izin. Mereka mendapat pengurangan hukuman setengah dari yang dituduh.

"Ancaman awalnya didenda 600.000 bath per nelayan dikurangi menjadi 300.000 bath. Namun, jika gagal membayar akan diganti dengan hukuman kurungan tidak lebih dari dua tahun potong masa tahanan sementara," kata Almuniza.

Sementara, 24 nelayan lainnya yang ditangkap di KM Tuah Sulatan mengikuti persidangan pada 16 Mei 2020. Sebanyak 21 orang di antaranya dinyatakan bersalah dan tiga anak lainnya yang dianggap di bawah umur dipulangkan.

"Mereka juga mengakui bersalah masuk ke perairan laut Andaman, Thailand," ujarnya.

Ke-21 nelayan tersebut harus membayar denda 250.000 bath bagi nakhoda dan 150.000 bath bagi nelayan atau kru. Jika gagal membayar denda, maka akan diganti dengan hukuman badan tidak lebih dari satu tahun potong masa tahanan. Sementara bagi nakhoda atau kapten kapal dan tidak lebih 300 hari potong masa tahanan sementara bagi kru kapal.


Editor : Maria Christina