Pantai Bintan Kepri Berwarna Hitam akibat Tercemar Limbah Minyak Kapal Asing

Antara ยท Rabu, 19 Februari 2020 - 22:00 WIB
Pantai Bintan Kepri Berwarna Hitam akibat Tercemar Limbah Minyak Kapal Asing
Limbah minyak mencemari pantai di Kabupaten Bintan, Kepri. Limbah minyak itu diduga dari aktivitas kapal asing. (Foto: Antara)

TANJUNGPINANG, iNews.id – Pantai Bintan, Kepulauan Riau (Kepri) berwarna hitam akibat tercemar limbah minyak, Rabu (19/2/2020). Pantai tersebut merupakan objek wisata andalan masyarakat Bintan. Tercemarnya pantai itu juga membuat nelayan kesulitan mendapat tangkapan ikan.

Informasi limbah tersebut yang disebarkan sejumlah warganet di media sosial di sekitar Perairan Bintan, Rabu, di sepanjang pantai di kawasan Kawal, Desa Teluk Bintan, Desa Malang Rapat, Berakit hingga Senggiling terdapat minyak hitam yang mencair dan kenyal.

Minyak hitam yang berada di pinggir pantai, tidak hanya mencemari kawasan objek wisata, melainkan juga kawasan tangkapan ikan. Ratusan perahu dan sampan juga kotor.

"Minyak hitam lengket di jaring ikan dan bubuh kepiting," kata Ketua RT 2 Desa Teluk Bakau, Kecamatan Gunung Kijang, Kurnia.

Kurnia yang tinggal di Perumahan Pelantar juga menunjukkan minyak hitam pada dinding puluhan perahu nelayan.

Di depan rumah milik Kurni juga terdapat keramba ikan yang dikelola penginapan Kelong Eli. Di keramba ikan itu juga terdapat minyak hitam.

"Sebagian warga di Teluk Bakau bekerja sebagai nelayan. Nelayan sulit mendapatkan ikan akibat limbah tersebut," ujarnya.

Di Desa Teluk Bakau dan Malang Rapat juga banyak menggantungkan hidup dengan menangkap kepiting, gonggong dan kerang. Limbah menyebabkan nelayan kesulitan mendapatkan kepiting, gonggong dan kerang.

"Kami berharap pemerintah menyelesaikan permasalahan ini. Ini permasalahan terjadi setiap tahun saat musim angin utara," katanya.

Sebelumnya, Kapolres Bintan AKBP Boy Herlambang mengatakan, jajarannya sudah menyelidiki kasus pencemaran limbah minyak di kawasan pantai itu. Berdasarkan pengumpulan keterangan dan barang bukti, limbah itu bukan berasal dari perairan Indonesia, melainkan perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia dan Singapura.

"Diduga limbah itu berasal dari kapal asing. Kami sudah melaporkan hal itu ke Mabes Polri melalui Polda Kepri," ucapnya.


Editor : Kastolani Marzuki