Takut Korona, Empat WNA China Terpaksa Perpanjang Izin Tinggal di Bintan

Antara ยท Jumat, 14 Februari 2020 - 14:38 WIB
Takut Korona, Empat WNA China Terpaksa Perpanjang Izin Tinggal di Bintan
WNA China menjalani pemeriksaan kesehatan di Imigrasi untuk mencegah virus korona. (Foto: Antara)

TANJUNGPINANG, iNews.id - Empat wisatawan asal China mengajukan perpanjangan izin tinggal ke pihak Imigrasi Tanjunguban, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Uniknya, mereka mengajukan perpanjangan ini dalam kondisi terpaksa agar tidak tertular virus korona.

Kepala Divisi Keimigrasian Kemenkumham Kepri Firmansyah mengatakan, empat WNA China tersebut mendapatkan perpanjangan izin tinggal selama sebulan. Selama di Bintan, mereka tinggal di hotel.

"Jika dibutuhkan, silakan ajukan perpanjangan izin tinggal. Kami akan kabulkan dengan alasan kemanusiaan," kata Firmansyah, Jumat (14/2/2020).

Firman menambahkan, izin tinggal dalam kondisi terpaksa tidak ada batas waktunya. Namun pemberian izin tinggal disesuaikan dengan kondisi berdasarkan Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 3/2020.

"Seandainya, obat antivirus itu sudah ditemukan, dan kondisi dinyatakan tidak berbahaya lagi, maka peraturan itu akan dicabut. Mudah-mudahan tidak lama lagi ditemukan obat anti virus tersebut," kata dia.

Lebih lanjut Firman mengatakan, hingga saat ini, baru empat WNA China yang mengajukan perpanjangan izin tinggal. Dia menduga, jumlah WNA China yang akan mengajukan perpanjangan akan bertambah. Pasalnya, ada ratusan tenaga kerja asal China yang bekerja di Kepri.

Jumlah warga negara asing ke Kepri melalui pemeriksaan pihak Imigrasi pada tahun 2019 sebanyak 2.765.003 orang. Mereka masuk melalui tujuh Kantor Imigrasi di Kepri yakni Batam, Tanjungpinang, Tanjunguban Bintan, Tanjung Balai Karimun, Belakang Padang Batam, Ranai Natuna dan Tarempa Kepulauan Anambas.

Sementara untuk data warga negara China yang bekerja di Kepri, ia belum bersedia menginformasikannya kepada wartawan. Namun ia memastikan ada tenaga kerja asal China yang bekerja di Kepri.

"Semuanya legal, tidak ada yang ilegal," kata dia.


Editor : Nur Ichsan Yuniarto