Nikah Muda Agar Bisa Hidup Sejahtera, yang Terjadi Malah Sebaliknya

Iskandar Nasution ยท Kamis, 19 April 2018 - 22:31 WIB
Nikah Muda Agar Bisa Hidup Sejahtera, yang Terjadi Malah Sebaliknya
Elis Kholisah saat memberikan makanan kemana putranya. (Foto: iNews/Iskandar Nasution)

BANTEN, iNews.id – Atas dasar alasan kemiskinan, sepasang suami istri di Panimbang, Pandeglang, Banten, membuat keputusan untuk menikah muda. Namun tiga tahun usia pernikahan telah berlalu. Niat hidup bisa lebih sejahtera justru berbanding terbalik dengan kenyataan. Pasutri itu hidup penuh keterbatasan ekonomi dan terjerumus dalam kemiskinan.

Elis Kholisah (17), ibu muda asal Kampung Cangkudu, Desa Citeureup, Kecamatan Panimbang, menikah saat usianya baru beranjak 15 tahun. Dia menerima pinangan Adi Cahyadi yang sekarang menjadi suaminya. Kehidupan pernikahan bersama suaminya itu awalnya begitu indah. Mereka dianugerahi seorang anak lelaki yang tampan dan aktif.

Namun kebahagiaan itu hanyalah sementara. Setiap harinya pasutri muda itu harus berkutat dengan permasalahan ekonomi. Kehidupan rumah tangga semakin sulit, ketika sang suami belum mendapatkan pekerjaan tetap. Mereka bisa bersabar dengan mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan makanan seadanya, namun tidak bagi sang bayi. Untuk memenuhi kebutuhan susu sang bayi, pasutri tersebut bahkan harus berutang, hingga sang suami mendapat cukup rezeki untuk menebus dan membahagiakan istri dan anak semata wayangnya.

“Seharusnya saya dahulu lanjut sekolah ke jenjang SMA. Tapi gimana ya, karena tidak punya cukup biaya akhirnya saya memutuskan berhenti sekolah dan menikah, agar bisa berkecukupan,” kata Elis.

Jika anak seusianya kerap berteman dengan buku dan pelajaran, waktu Elis sepenuhnya hanya untuk keluarga. Seluruh aktivitas rumah tangga telah menjadi tanggung jawab dirinya, mulai dari memasak air panas, untuk mandi anaknya, memasak, menyapu halaman, hingga mengurus suami.

Dia sempat mengaku indahnya pernikahaan tak seperti yang awalnya dibayangkan. Sang suami yang juga tidak melanjutkan sekolah, belum juga mendapat pekerjaan tetap. Tak jarang mereka akan meminta bantuan kedua orang tua masing-masing untuk memenuhi kebutuhan.

Menikah muda di daerah itu memang menjadi pilihan terakhir, karena banyak remaja di desa tersebut tidak melanjutkan sekolah. Tingginya angka kemiskinan menjadi penyebab.

Meski begitu, pernikahan bukanlah sesederhana yang dibayangkan. Perlu kematangan baik dalam psikologi maupun fisik. Itulah alasan mengapa pernikahan dini sebaiknya janganlah terjadi.


Editor : Donald Karouw