Kepala Desa di Sikka NTT Diduga Hamili Staf, Ratusan Warga Palang Kantor Kades

Joni Nura ยท Senin, 05 Oktober 2020 - 14:38:00 WIB
Kepala Desa di Sikka NTT Diduga Hamili Staf, Ratusan Warga Palang Kantor Kades
Warga Desa Nita, Kabupaten Sikka, NTT, menyegel Kantor Kepala Desa Nita karena kepala desa diduga menghamili salah seorang stafnya, Senin (5/10/2020). (Foto: iNews/Joni Nura)

SIKKA, iNews.id - Kepala Desa Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), ABL dilaporkan oleh sekelompok masyarakat ke Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Nita, Senin pagi (5/10/2020). ABL diduga menghamili salah seorang stafnya di Kantor Desa Nita berinisial VW.

Ratusan warga memenuhi halaman Kantor BPD yang bersebelahan dengan Kantor Desa Nita. Warga yang mendatangi Kantor BPD Nita ini merupakan keluarga dari korban staf yang dihamili oknum kepala desa dan warga setempat. Mereka kemudian memalang ruangan kepala desa dengan kayu sebagai bentuk protes atas perbuatan ABL.

Di dalam ruangan Kantor BPD, tampak perwakilan keluarga korban VDL bersama pengurus BPD, perwakilan Aliansi Pemuda Nita, Lembaga Adat Desa Nita, tokoh masyarakat dan Bhabinkamtibnas Desa Nita. Mereka menggelar rapat terkait laporan pengaduan keluarga VW terhadap ABL.

Kepala BPD Herman Ranu mengatakan, selama ini mereka masih sebatas mendengar isu terkait salah satus staf kantor kepala Desa Rani yang diduga dihamili kades. Namun, dengan kedatangan keluarga korban hari ini, semua sudah jelas sehingga BPD akan memproses pengaduan warga.

"Sebagai BPD, kami akan merespons ini. Tindakan kami, kami akan mengundang tokoh masyarakat dan pihak terkait lainnya. Kami akan berdiskusi dan menyurati bupati Sikka. Apakah kita masih mempercayakan dia sebagai pemimpin atau bagaimana? Ini juga kami akan meminta dukungan dari masyarakat," kata Herman Ranu.

Sementara itu, perwakilan dari keluarga korban, Son Botu mengatakan pihaknya meminta BPD Nita segera melaksanakan kewenangannya untuk menindaklanjuti laporan keluarga terkait perbuatan amoral ABL yang diduga menghamili VW.

"Kami juga meminta melalui BPD setempat agar ABL tidak lagi membangun komunikasi dengan VW baik melalui sambungan telepon atau bertemu muka," kata Son Botu.

Sementara perwakilan pemuda Desa Nita, Soni Padeng, mengharapkan agar BPD memfasilitasi penyelesaian masalah tersebut secara adat istiadat. Penyelesaian masalah itu harus melibatkan lembaga adat desa dan secara pemerintahan melalui BPD.

"Kami minta masalah ini harus diselesaikan secara adat lewat Lembaga Adat Desa Nita. Kami orang muda Desa Nita meminta masalah kades ini segera ditindaklanjuti. Apalah artinya Desa Nita juara jika masalah ini terjadi. Ada dua lembaga besar BPD dan Lembaga Adat. Kami sangat menghargai kedua lembaga ini bisa menyelesaikan," ungkap Soni Padeng.

Hingga berita ini diturunkan, perwakilan keluarga korban, tokoh pemuda, tokoh masyarakat dan lembaga adat Desa Nita masih menggelar rapat bersama BPD Desa Nita. Sementara ABL tidak bisa dikonfirmasi karena tidak diketahui keberadaannya.

Ratusan warga Desa Nita yang hadir di Kantor Desa Nita juga menandatangani surat yang menuntut pengunduran diri sang kepala desa. Warga memalang ruangan kepala desa Nita ABL, namun petugas Kepolisian dari Polsek Nita segera melepasnya.


Editor : Maria Christina