Kapal KM Shimpo Bermuatan Semen Tenggelam di Lembata, Polisi Periksa Belasan Orang

Joni Nura, Antara ยท Kamis, 12 Desember 2019 - 17:15 WIB
Kapal KM Shimpo Bermuatan Semen Tenggelam di Lembata, Polisi Periksa Belasan Orang
Warga tampak ramai melihat kapal yang tenggelam di Pelabuhan Lewoleba, Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, Provinsi NTT, Rabu (11/12/22019) sore. (Foto: iNews/Joni Nura)

LEMBATA, iNews.id – Polres Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menyelidiki tenggelamnya kapal tol laut KM Shimpo 16 di Pelabuhan Lewoleba, Kabupaten Lembata. Polisi telah memeriksa 18 orang terkait insiden pada Selasa (10/12/2019) pagi lalu yang mengakibatkan kerugian sekitar Rp20 miliar karena ribuan sak semen ikut tenggelam.

Kasat Reskrim Polres Lembata, Iptu Komang Sukamara mengatakan, pemeriksaan saksi-saksi terkait kapal tenggelam itu dilakukan pada Rabu (11/12/2019) kemarin dan dilakukan secara maraton. “Kami periksa secara maraton sejumlah orang dari pihak KM Sinpo dan dari KM Maju 8,” kata Komang, Kamis (12/12/2019).

Sejumlah saksi yang diperiksa antara lain Sularjo (47); Sutarjo (69), Pujiyono (65) yang merupakan masinis I dan dua anak buahnya, masing-masing Pieter Rumansara (50), dan Priyatno (40).

Polisi juga memeriksa Muhamad Rosky Apriliawan (21), Rahmad Alvian (20) dan Yusuf Eahyu Sektiaji (23) serta dua juru mudi masing-masing Helmi Wiratna Abdilah (35) dan Dani Cahyo (23).

 

BACA JUGA:

Kapal Tol Laut KM Shimpo 16 Pengangkut Semen dari Surabaya Tenggelam di Lembata NTT

Kapal Tol Laut KM Shimpo Bermuatan Semen Tenggelam, Aktivitas Pelabuhan Lewoleba Lumpuh

 

Selanjutnya, Oppy Ary Pradana (19), kelasi kapal; Adeikwan Munahat (21), koki kapal; Imran Lupa (39), mualim I; Amdan Nasich (38), mualim II; Safri (22), serang kapal; dan Tegar Kelana (30) yang merupakan operator crane kapal.

“Kami juga periksa ABK (anak buah kapal) KM Maju 8 di antaranya Wartono (62); Taslim (26); Yoga Nugraha (24); serta Sukadi yang berusia 56 tahun,” ujarnya.

Sementara ABK KM Maju 8 lainnya belum didata dan belum diperiksa. Pasalnya, mereka masih di dalam KM Maju 8 yang berada di tengah laut dan belum bisa dievakuasi ke darat.

Namun, hasil pemeriksaan terhadap sejumlah saksi tersebut belum bisa disampaikan. Polisi saat ini masih menyelidiki lebih jauh terkait kasus tenggelamnya kapal yang pernah menjadi kapal tol laut itu.

Selain itu, kapal yang tenggelam juga belum bisa dievakuasi hingga Kamis (12/12/2019). Polisi masih menunggu koordinasi dengan pemilik kapal dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata maupun otoritas Pelabuhan Lewoleba Kabupaten Lembata.

Kepala Sub Cabang Pelabuhan Lewoleba Mad Syaiful mengatakan, akibat tenggelamnya kapal bermuatan semen itu, aktivitas pelabuhan lumpuh. Saat ini, kapal milik Pelni tidak bisa bersandar di pelabuhan. Kapal juga tidak bisa melakukan aktivitas bongkar muatan. “Jadi dampaknya sangat besar karena kapal kami tidak bisa bersandar,” kata Syaiful.


Editor : Maria Christina