Kakak Adik Penderita Obesitas Akut di Sigi Sulteng Jalani Diet Ketat

Antara ยท Kamis, 25 April 2019 - 04:15 WIB
Kakak Adik Penderita Obesitas Akut di Sigi Sulteng Jalani Diet Ketat
Kakak adik, Windy (kiri) dan As Syfa yang menderita obesitas akut harus menjalani diet ketat. Keduanya kini di bawah pengawasan dokter anak RSUD Madani, Palu, Sulteng. (Foto: Antara)

PALU, iNews.id – Windi dan As Syfa, kakak adik dari Desa Ramba, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng) yang menderita obesitas akut harus menjalani diet ketat.

Mereka saat ini dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Madani Palu untuk mendapat penanganan medis optimal. Sang kakak, Windi (14) diketahui memiliki bobot 140 kilogram (kg). Sedangkan adiknya, As Syfa yang masih balita sudah berbobot 58 kg di usianya empat tahun.

Dokter Spesialis Anak RSUD Madani Palu, Stevanny R Wulan mengatakan, saat ini langkah antisipatif yang dilakukan untuk menurunkan berat badan ke duanya berupa pengaturan pola makan.

“Kalau dulu mereka makan enam kali sehari, sekarang kita batasi tiga kali sehari dan kita perbanyak buah-buahan. Untuk anak seusia mereka tidak boleh kita terapkan pola diet ketat seperti orang dewasa," ujarnya, Rabu (24/4/2019).

Selain itu memperbanyak aktivitas fisik, juga tengah dilakukan seperti mengajak mereka jalan santai mengitari kompleks RSUD Madani Palu setiap hari.

Dia mengakui hal yang cukup sulit yaitu menghilangkan kebiasaan buruk mereka berdua saat masih berada di rumahnya yakni makan dengan porsi berlebihan enam kali sehari ditambah camilan-camilan yang kurang sehat.

"Obesitas apalagi obesitas akut pada anak-anak sangat berbahaya. Mereka dapat mengalami penyakit jantung, tumbuh kembangnya akan terhambat akibat kurang beraktivitas," katanya.

Apalagi sang kakak Windi yang kini tengah menginjak usia remaja. Obesitas yang dia alami dapat membuat kepercayaan dirinya hilang yang dapat berdampak pada hubungan sosialnya kepada masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.

Direktur RSUD Madani Palu, Nirwansyah Parampasi mengaku menyebut mereka berdua baru dirawat selama empat hari sejak Sabtu pekan lalu.

Sejak saat itu pola hidup sehat dan aktivitas fisik mulai diterapkan kepada mereka berdua. "Saya sempat marah dengan orang tuanya karena saya dapat mereka diam-diam bawah biskuit ke ruangannya dan diberi makan," katanya.

Menurut Nirwansyah, RSUD Madani Palu sangat membutuhkan pelatih fisik atau trainer untuk mereka.

"Kita butuh trainer yang memang ahli di bidang menurunkan berat badan untuk anak-anak seusia mereka. Kalau Arya itu trainer khusunya Ade Rai. Kita butuh trainer seperti itu," katanya.

Selain itu kata Nirwansyah rumah sakit juga butuh ahli bedah plastik sebab sisa kulit di tubuh mereka saat berat badannya turun pasti harus dibuang.


Editor : Kastolani Marzuki