Kakak Adik di Sigi Derita Obesitas Akut, Bobotnya 140 Kg dan 58 Kg

Antara ยท Rabu, 24 April 2019 - 19:19 WIB
Kakak Adik di Sigi Derita Obesitas Akut, Bobotnya 140 Kg dan 58 Kg
Windi dan As Syfa, kakak adik kakak adik asal Desa Ramba, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah menderita obesitas akut. (Foto: Antara)

PALU, iNews.id – Windi dan As Syfa, kakak adik dari Desa Ramba, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng) harus menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Madani Palu.

Penyebabnya, mereka menderita obesitas akut. Dalam usianya yang masih belia, keduanya memiliki tubuh jumbo. Sang kakak, Windi memiliki bobot 140 kilogram (kg) dalam usianya masuk 14 tahun. Sedangkan adiknya, As Syfa yang masih balita sudah berbobot 58 kg di usianya empat tahun.

“Waktu melahirkan berat badannya mereka masih normal antara 3-3,5 kg," kata Erva, ibu dari Windi dan As Syfa saat ditemui di RSUD Madani Palu, Selasa (23/4/2019).

Dia menuturkan, badan kedua anaknya itu mulai melar saat memasuki usia dua bulan. Saat itu, Erva dan keluarga tidak dapat membendung nafsu makan Windi dan As Syfa yang begitu liar ditambah porsi makanan yang dikonsumsi jauh dari ukuran normal untuk anak-anak dan balita seusianya.

Tiap kali mereka menangis, Erva dan keluarga selalu memberikan uang jajan untuk membeli makanan ringan atau cemilan dengan harapan ke duanya dapat berhenti menangis. 

Cara itu efektif, namun sayang, cara itulah yang mengakibatkan kakak beradik tersebut mengalami obesitas akut hingga sulit berjalan. “Dari umur dua bulan sampai sekarang berat badannya naik terus sampai saat ini," katanya.

BACA JUGA: 2 Pekan Diet, Penderita Obesitas Titi Wati Sudah Bisa Duduk Lebih Lama

Akibatnya baik Windi dan As Syfa tidak dapat beraktivitas seperti layaknya anak-anak dan balita seusia mereka. 
Bahkan mereka berdua cenderung lebih banyak menghabiskan waktunya dengan duduk dan tidur-tiduran. “Bahkan mereka sekarang setengah mati bernapas,” ucapnya.

Dokter Spesialis Anak di RSUD Madani Palu yang menangani keduanya, Stevanny R Wulan mengatakan saat ini langkah antisipatif yang dilakukan untuk menurunkan berat badan ke duanya berupa pengaturan pola makan.

"Kalau dulu mereka makan enam kali sehari, sekarang kita batasi tiga kali sehari dan kita perbanyak buah-buahan. Untuk anak seusia mereka tidak boleh kita terapkan pola diet ketat seperti orang dewasa," ujarnya.


Editor : Kastolani Marzuki