Kabut Asap Tebal, 4 Pesawat yang Berputar-putar di Pekanbaru Gagal Mendarat

Yusuf Marpaung, Antara ยท Minggu, 22 September 2019 - 11:58 WIB
Kabut Asap Tebal, 4 Pesawat yang Berputar-putar di Pekanbaru Gagal Mendarat
Kondisi kabut asap yang menyelimuti di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, Riau, Minggu (22/9/2019). (Foto: iNews/M Yusuf Marpaung)

PEKANBARU, iNews.id – Sedikitnya empat pesawat dari sebelumnya tiga, gagal mendarat di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, Riau, Minggu (22/9/2019). Keempat maskapai mengalihkan penerbangan ke sejumlah bandara terdekat hingga kembali bandara awal akibat kabut asap tebal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Ibu Kota Provinsi Riau.

Officer In Charge Bandara SSK II Pekanbaru Benni Netra mengatakan, pesawat Batik Air 6856 dan Lion Air JT 296 mengalihkan penerbangan ke Bandara Hang Nadim, Batam. Sementara dua lainnya, Citilink QG 936 kembali ke Bandara Soekarno Hatta, Jakarta serta Malindo Air OD 362 ke Subang, Kuala Lumpur.

"Empat pesawat yang melakukan holding (berputar-putar di udara) divert (mengalihkan penerbangan) karena tidak memungkinkan untuk mendarat," ujar Benni di Pekanbaru, Minggu (22/9/2019).

Dia menjelaskan, Batik Air 6856 yang terbang sejak pukul 06.00 WIB dari Bandara Soekarno Hatta sempat berputar-putar lebih dari dua jam lamanya di langit Pekanbaru. Namun pada pukul 10.00 WIB akhirnya memilih terbang menuju Bandara Hang Nadim. Hal yang sama juga dilakukan pilot Lion Air JT 96 dari Yogyakarta.

Sementara Citilink QG 936 terpaksa ke bandara asal akibat kesulitan mendarat di Bandara SSK II Pekanbaru. Begitu juga dengan Malindo Air OD 362 dari Subang, Kuala Lumpur yang kembali ke Malaysia karena tidak memungkinkan untuk mendarat.

Menurut Benni, sejak pagi keempat pesawat itu telah berupaya mendarat di Bandara SSK II Pekanbaru. Namun jarak pandang pendek hanya 500 meter. Pilot terpaksan berputar-putar menunggu jarak aman pendaratan minimal 800 meter.

“Jarak pandang aman untuk mendaratkan pesawat yakni  800 meter. Namun BMKG menyatakan jarak pandang hanya 500 meter akibat asap,” katanya.

Terbatasnya jarak pandang ini merupakan dampak dari karhutla yang kini melanda sebagian wilayah Riau. Data BMKG, jarak pandang terbatas di waktu yang sama juga terjadi berlangsung di Kabupaten Pelalawan sekitar 300 meter, Kabupaten Indragiri Hulu 500 meter serta Kota Dumai 1 Kilometer (Km).


Editor : Donald Karouw