Demo Tolak TKA China Berlanjut Hingga Malam, Massa Bentrok dengan Polisi

Febriyono Tamenk, Antara ยท Selasa, 23 Juni 2020 - 23:22 WIB
Demo Tolak TKA China Berlanjut Hingga Malam, Massa Bentrok dengan Polisi
Massa membakar ban saat berunjuk rasa menolak kedatangan ratusan TKA China di kawasan Bandara Haluoleo, Konawe Selatan, Sultra. (Foto: Antara)

KONAWE SELATAN, iNews.id – Aksi unjuk rasa menolak kedatangan tenaga kerja asing (TKA) China di Simpang 3 Bandara Haluoleo, Desa Ambaipua, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra) berlanjut hingga Selasa (23/6/2020) malam. Aksi tersebut bahkan berujung rusuh.

Massa dibubarkan paksa oleh petugas Polda Sultra dengan menggunakan tembakan gas air mata karena menolak membubarkan diri. Massa kemudian membalas dengan melemparkan batu ke arah polisi.

Kemarahan massa yang terdiri atas mahasiswa dan warga ini dipicu kekecewaan mereka terhadap Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra yang telah membiarkan ratusan TKA China masuk ke wilayah mereka.

Massa berjanji akan kembali turun melakukan aksi unjuk rasa menyuarakan penolakan terhadap 500 TKA China di tengah pandemi Covid-19.

Massa kemudian berhasil dipukul mundur petugas dengan menembakan gas air mata ke arah pengunjuk rasa.

Sebelumnya pihak kepolisian menurunkan dua ekor anjing pelacak untuk mengamankan aksi unjuk rasa penolakan 500 orang tenaga kerja asing (TKA) di simpang empat Ambaipua menuju Bandara Haluoleo, Kecamatan Ranomeeto Kabupaten Kobawe Selatan, Selasa.

Selain menyiapkan dua ekor anjing pelacak, pihak kepolisian juga menyiapkan dua unit mobil water canon dan gas air mata untuk menghalau pengunjuk rasa masuk di Bandara Haluoleo.

Para massa aksi dari berbagai elemen melakukan aksi untuk rasa tepat di simpang empat Ambaipua, Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan menuju Bandara Haluoleo.

Dalam orasinya, massa menegaskan bahwa mereka menolak kedatangan 500 TKA di wilayah Sulawesi Tenggara. Selain itu mereka juga menyampaikan rasa kekecewaannya kepada Gubernur Sultra dan Ketua DPRD Sultra yang telah mengizinkan para TKA masuk.


Editor : Kastolani Marzuki