Banjir Bandang-Longsor di Lebak Banten Porak-Porandakan 30 Desa, Warga Terus Dievakuasi

Iskandar Nasution ยท Senin, 06 Januari 2020 - 16:44 WIB
Banjir Bandang-Longsor di Lebak Banten Porak-Porandakan 30 Desa, Warga Terus Dievakuasi
Bupati Lebak, Iti Oktavia Jayabaya meninjau Desa Mayak yang menjadi lokasi terparah dilanda banjir bandang, Senin (6/1/2020). (Foto: iNews/Iskandar Nasution)

LEBAK, iNews.id - Banjir bandang dan longsor yang menerjang Kabupaten Lebak, Banten, awal Januari 2020 lalu memorak-porandakan 30 desa. Ribuan rumah warga, sarana prasarana, serta infrastruktur desa rusak diterjang bencana itu.

Selain memorak porandakan bangunan rumah dan infrastruktur, bencana tersebut juga menewaskan  sembilan orang. Sebanyak 17.200 warga lainnya harus mengungsi.

Bupati Lebak, Iti Oktavia Jayabaya mengungkapkan, dari pendataan sementara saat ini ada 46 titik lokasi bencana yang tersebar di 30 desa. Keterbatasan Pemda Lebak membuat pemantauan dan pembangunan infrastrukur di lokasi banjir dan longsor tidak optimal, apalagi lokasi longsor yang sangat jauh dan tidak bisa dilalui kendaraan.

“Saat ini kita sedang evakuasi warga yang masih terisolasi. Kita masih terus ikhtiar. Karena terbatas juga ada 46 titik (bencana) ya di Lebak, 30 desa. Peralatan juga terbatas, jadi dibagi,” kata Iti Oktavia Jayabaya saat memantau lokasi terparah banjir bandang di Desa Mayak, Kecamatan Curugbitung, Senin (6/1/2020).

 

Di desa tersebut, setidaknya ada ratusan rumah warga yang rusak akibat terjangan banjir bandang dan longsor, Rabu (1/1/2020) lalu.

Secara geografis, Desa Mayak berada di lingkaran Sungai Cidurian dengan jumlah populasi terbanyak. Saat banjir bandang menerjang, ketinggian air di atas empat meter dan menghacurkan apa saja di desa tersebut.

BACA JUGA:

Korban Longsor di Kampung Muara Lebak Terisolasi, Bantuan Disalurkan Lewat Udara

Banjir Bandang Lebak Banten, Korban Tewas 9 Orang, 17.200 Warga Mengungsi

Iti mengatakan, saat ini Pemkab Lebak terus berupaya membantu masyarakat yang terisolasi. Masyarakat juga diminta tidak tinggal di bantaran kali karena sangat membahayakan.

“Curah hujan kan masih tinggi sampai Februari. Karena itu, kami minta rumah-rumah yang ada di bantaran sungai tidak ditempati. Untuk distribusi logistik, lewat udara. Sebab, jembatan putus. Perjalanan darat makan waktu sekitar 7 jam an. Kemarin, ada 10 orang di Cigobang yang sakit dan dievakuasi lewat heli. Tapi sekarang kondisinya berkabut jadi tidak bisa terbang helinya,” katanya.

Warga Desa Mayak yang menjadi korban bencana, Sarna mengaku hampir seluruh rata bendanya tak tersisas diterjang banjir bandang. “Hancur semua rumah saya pak. Di sini, juga untuk tempat anak mengaji. Kitab-kitab ngaji abis semuanya. Perabotan juga. Ketinggian air sata itu kurang dua meter lebih. Saya langsung lari, nyelametin badan doing,” katanya.


Editor : Kastolani Marzuki