Fleksibilitas tersebut diwujudkan melalui berbagai format layananan, mulai dari pop up store, coffee serving, Mobile Cafe Tukuliling Rangga, hingga format praktis seperti vending machine, yang memudahkan pengalaman TUKU hadir di lebih banyak titik masyarakat. Pendekatan ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan dan evolusi customer experience yang menuntut kehadiran yang lebih cepat, praktis, dan kontekstual.
Dari perspektif pengelola ruang publik, aktivasi TUKULILING terbukti memberi dampak pada dinamika ruang urban. VP Commercial and Retail Division PT MRT Jakarta (Perseroda), Jacques Ricardo Daniel Soleman menyampaikan bahwa selama periode pop-up, jumlah pengunjung stasiun meningkat sekitar 3.000 orang per hari.
“Itu menunjukkan ruang publik bisa hidup ketika pengalaman yang dihadirkan relevan dengan kebutuhan orang untuk bertemu,” ujarnya.
Dari sisi penyelenggaraan acara, TUKULILING dalam format coffee serving yang adaptif juga menjadi dukungan operasional yang signifikan. Citra Aurora Paramita, CEO Swasana, Gunawarman, Pakubuwono Wedding Organizer, menyoroti tekanan yang kerap muncul menjelang hari pelaksanaan.
“Menjelang hari-H, fokus penyelenggara seharusnya ada pada jalannya acara dan pengalaman tamu. Dukungan TUKULILING membantu kami mengelola kebutuhan teknis tanpa mengganggu alur utama acara,” ucapnya.
Editor : Anindita Trinoviana
Artikel Terkait