Objek wisata di Banten Lama cocok bagi yang menyukai wisata sejarah untuk menambah pengetahuan. (Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id).
Reza Rizki Saputra

SERANG, iNews.id - Objek wisata di Banten Lama cocok bagi yang menyukai wisata sejarah. Wisata di lokasi ini merupakan kawasan situs sejarah yang berada di Kecamatan Kasemen, Kota Serang. 

Lokasinya berjarak 10 kilometer dari Alun-Alun Kota Serang dengan waktu tempuh 30 menit. Selain itu, letaknya relatif tidak jauh dari Kota Jakarta dengan jarak tempuh dua jam dari Jakarta. 

Terdapat beberapa objek wisata di Banten Lama yang didukung oleh Gubernur Banten Wahidin Halim sebagai ikon dari Provinsi Banten. 

Berikut objek wisata di Banten Lama yang telah dirangkum dari berbagai sumber: 

1. Keraton  Surosowan

Merupakan kediaman para Sultan Banten dari Sultan Maulana Hasanuddin hingga Sultan Haji yang pernah berkuasa pada tahun 1672 hingga 1687. Keraton ini dibangun pada 1552. 

Keraton Surosowan ini telah mengalami penghancuran beberapa kali hingga saat ini. Kehancuran total yang pertama kali terjadi ketika “perang saudara” antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putra mahkota Sultan Haji yang dibantu oleh VOC pada 1680. 

Akibat perang ini, Keraton Surosowan dibumihanguskan oleh Sultan Ageng Tirtayasa sebelum melanjutkan perlawanan dari Tirtayasa. Pada masa kejayaan Banten disebut dengan Kota Intan. 

Bukti itu ditunjukan di Keraton Surosowan yang  dibangun mirip sebuah benteng Belanda yang kokoh dengan bastion (sudut benteng  berbentuk intan) pada empat sudut bangunannya.

Keraton Surosowan ini memiliki tiga gerbang masuk, masing-masing terletak di sisi utara, timur dan selatan. Namun, pintu selatan telah ditutup dengan tembok, tidak diketahui apa sebabnya. 

Pada bagian tengah keraton terdapat sebuah bangunan kolam berisi air berwarna hijau, yang dipenuhi oleh ganggang dan lumut. Di keraton ini juga banyak ruang di dalam keraton yang berhubungan dengan air atau mandi-mandi (petirtaan). 

Salah satu yang terkenal adalah bekas kolam taman, bernama Bale Kambang Rara Denok. Ada pula pancuran untuk pemandian yang biasa disebut “pancuran mas”.

Kolam Rara Denok berbentuk persegi empat dengan panjang 30 meter dan lebar 13 meter serta kedalaman kolam 4,5 meter. Terdapat dua sumber air di Surosowan yaitu sumur dan Danau Tasikardi yang terletak sekitar dua kilometer dari Surosowan. 

Kolam ini merupakan tempat untuk mandi bagi para penghuni keraton, khususnya para selir dan bidadari kerajaan saat itu. Maka itu, banyak orang yang menyebut kolam ini dengan sebutan kolam pemandian delapan bidadari.

2. Keraton Kaibon

Dibangun untuk kediaman Ratu Aisyah. Sang ratu merupakan ibunda Sultan Syaifudin. Kaibon artinya keibuan. Kala itu Sang Sultan ke-21 itu masih belia, umurnya baru lima tahun sehingga belum bisa memegang tampuk pemerintahan.

Arsitektur Keraton Kaibon ini unik karena dikelilingi  saluran air. Keraton Kaibon dihancurkan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1832, bersamaan dengan keraton Surosowan. 

Kini, yang masih tersisa hanya lah gerbang dan pintu-pintu besar yang dikenal dengan nama Pintu Paduraksa yang modelnya khas Bugis.

3. Masjid Agung Banten

Merupakan salah satu objek wisata di Banten Lama yang terletak di Kompleks bangunan masjid di Desa Banten Lama, Kecamatan Kasemen, sekitar 10 km sebelah utara Kota Serang. Masjid ini dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin, sultan pertama Kesultanan Banten yang berkuasa pada tahun 1552 hingga 1570. Ia adalah putra pertama dari Sunan Gunung Jati.

Salah satu kekhasan yang tampak dari masjid ini yaitu atap bangunan utama yang bertumpuk lima, mirip pagoda China. Masjid ini merupakan karya arsitektur Tionghoa yang bernama Tjek Ban Tjut. 

Dua serambi yang dibangun kemudian menjadi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan utama. Di serambi kiri masjid ini terdapat kompleks makam para Sultan Banten dan keluarganya, yaitu Maulana Hasanuddin dengan Permaisurinya, Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Abu Nasr Abdul Kahar atau Sultan Haji. 

Sementara di serambi kanan, terdapat makam Sultan Maulana Muhammad, Sultan Zainul Abidin, Sultan Abdul Fattah, Pangeran Aria, Sultan Mukhyi, Sultan Abdul Mufakhir, Sultan Zainul Arifin, Sultan Zainul Asikin, Sultan Syarifuddin, Ratu Salamah, Ratu Latifah dan Ratu Masmudah.

4. Vihara Avalokitesvara

Merupakan salah satu objek wisata di Banten Lama serta Vihara tertua di Indonesia yang konon dibangun sejak abad ke-16. Keberadaan Vihara ini diyakini merupakan bukti bahwa pada saat itu penganut Agama yang berbeda dapat hidup berdampingan dengan damai tanpa Konflik yang berarti.

Kondisi di dalam Vihara sejuk karena banyak pepohonan rindang dan terdapat tempat duduk yang nyaman untuk beristirahat. Selasar koridor Vihara yang menghubungkan bangunan satu dengan yang lainnya ini terdapat relief cerita hikayat Ular Putih, yang dilukis dengan berwarna-warni sebagai elemen estetis.

Hal yang menarik dari gerbang Vihara Avalokitesvara pada atap berhiaskan dua naga memperebutkan mustika sang penerang (matahari). Gerbang ini seolah menyambut pengunjung di pintu masuk sebelum pengunjung masuk lebih ke dalam vihara yang memiliki nama lain klenteng Tri Dharma.

5. Benteng Speelwijk

Benteng Speelwijk, salah satu objek wisata di Banten Lama yang terletak di sisi utara Kesultanan Surosowan. Arsitek yang membangun benteng ini merupakan orang kepercayaan Sultan Ageng Tirtayasa, keturunan China yang kemudian bergelar Pangeran Cakradana. 

Bangunan inilah yang menjadi salah satu alasan Kesultanan Banten memiliki pertahanan yang sulit ditembus dari laut oleh para penjajah dari Eropa yang hendak memasuki nusantara.

Merujuk situs Kemendikbud dijelaskan, arsitek Belanda Hendrik Lucaszoon Cardeel juga berperan dalam pembangunan Speelwijk. Lucaszoon membangun Speelwijk pada 1682, lalu dipugar pada 1685 dan 1731. 

6. Museum Kepurbakalaan Banten Lama

Memiliki luas tanah kurang lebih 10.000 m² dan bangunan kurang lebih 778 m². Dibangun dengan gaya arsitektur tradisional Jawa Barat seperti yang terlihat pada bentuk atapnya. Lokasinya terletak antara Keraton Surosowan dan Masjid Agung Banten Lama, menyimpan banyak benda-benda purbakala. 

Dilihat dari bentuk bangunannya Museum Situs Kepurbakalaan lebih mirip seperti rumah yang kemudian dialihfungsikan menjadi museum. Dari sekian banyak benda-benda purbakala yang menjadi koleksinya, benda-benda tersebut dibagi menjadi 5 kelompok besar yaitu : 

- Arkeologika, yaitu benda-benda yang digolongkan dalam kategori ini adalah Arca, Gerabah, Atap, Lesung Batu, dll.

- Numismatika, yaitu koleksi bendanya berupa Mata Uang, baik Mata Uang lokal maupun Mata Uang asing yang dicetak oleh masyarakat Banten.

- Etnografika, yaitu benda-benda koleksinya berupa miniatur Rumah Adat Suku Baduy dan berbagai macam Senjata Tradisional dan juga senjata peninggalan Kolonial seperti Tombak, Keris, Golok, Meriam, Pistol, dll.

- Keramologika, yaitu benda-benda koleksi berupa macam-macam Keramik. Keramik yang tersimpan berasal dari berbagai negara seperti Burma, Vietnam, China, Jepang, Timur Tengah dan Eropa. 

Tak ketinggalan pula keramik lokal asal Banten yang biasanya lebih dikenal dengan sebutan Gerabah dan biasanya gerabah ini digunakan sebagai alat-alat rumah tangga.

- Seni rupa, yang termasuk di dalamnya merupakan benda-benda seni seperti Lukisan atau Sketsa. Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama ini menyimpan banyak koleksi lukisan tetapi hampir seluruhnya adalah lukisan hasil reproduksi.

Selain menyimpan benda-benda koleksi kepurbakalaannya di dalam ruangan, terdapat dua artefak yang disimpan di halaman Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, yaitu artefak Meriam Ki Amuk dan juga alat penggilingan Lada. 

Yang paling terkenal, yakni Meriam Ki Amuk terbuat dari tembaga dengan tulisan arab yang panjangnya sekitar 2,5 meter merupakan bantuan dari Ottoman, Turki.

Konon katanya, Meriam Ki Amuk memiliki kembaran, yaitu Meriam Ki Jagur yang saat ini tersimpan di halaman belakang Museum Fatahillah Jakarta. Sedangkan alat penggilingan lada yang terbuat dari batu padas yang sangat keras telah hancur menjadi beberapa bagian. 

Pada zaman dahulu Banten memang dikenal sebagai penghasil lada, itulah yang menyebabkan Belanda datang ke Banten, salah satunya ingin menguasai produksi lada.

7. Danau Tasikardi

Terletak tak jauh dari Istana Kaibon. Konon katanya, danau tersebut luasnya mencapai lima hektare dan bagian dasarnya dilapisi oleh batu bata. Pada masa itu danau ini dikenal dengan nama "Situ Kardi" yang memiliki sistem ganda, selain sebagai penampung air di Ci Banten yang digunakan sebagai pengairan persawahan. 

Danau juga dimanfaatkan sebagai pasokan air bagi keluarga keraton dan masyarakat sekitarnya. Air dialirkan dari pipa-pipa yang terbuat dari terakota berdiameter dua-40 cm. Sebelum digunakan air danau harus disaring dan diendapkan di penyaringan khusus yang dikenal dengan Pengindelan Abang atau Penyaringan Merah, Pengindelan Putih atau Penyaringan Putih, dan Pengindelan Emas atau Penyaringan Emas.


Editor : Kurnia Illahi

BERITA TERKAIT