Meski demikian, dia menyebut pasokan solar subsidi dari Depot Pertamina Dumai ke SPBU tersebut masih berjalan normal dengan kuota sekitar 60 ton per hari.
"Penyebab antreannya kita kurang paham. Kalau stok kita aman," ujar Habib.
Keluhan juga disampaikan Tambrin, sopir truk batu bara. Dia mengaku harus bermalam hingga dua hari untuk mendapatkan jatah 200 liter solar subsidi di SPBU PT Jawara Energi Semesta di Jalan Lintas Timur Kilometer 63, Kelurahan Kerinci Timur.
"Sudah dua hari ini," ucap Tambrin.
Menurut Tambrin, kondisi serupa tidak hanya terjadi di Pelalawan, tetapi juga di sepanjang Jalan Lintas Timur sejak dia mengangkut batu bara dari Sarolangun, Jambi, hingga mengirim muatan ke pabrik PT RAPP di Pelalawan.
Sementara itu, Manajer SPBU PT Jawara Energi Semesta, Joko Widodo menjelaskan bahwa antrean panjang terjadi karena distribusi solar dari Depot Pertamina Dumai kerap datang terlambat sehingga kendaraan yang hendak mengisi BBM terus menumpuk.
Dia juga mengakui, antrean di SPBU didominasi kendaraan berat seperti dump truk batu bara dan truk trailer. Padahal, sesuai ketentuan Pertamina, kendaraan tersebut seharusnya menggunakan BBM industri.
Namun, pihak SPBU tidak dapat menolak pengisian karena kendaraan-kendaraan tersebut memiliki barcode yang diterbitkan Pertamina.
"Sudah dua hari ini," ujar Joko Widodo.
Hingga kini, antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan solar subsidi masih terjadi di sejumlah SPBU di Kabupaten Pelalawan dan dikeluhkan para pengemudi yang bergantung pada ketersediaan BBM untuk bekerja.
Editor : Kurnia Illahi
Artikel Terkait