Sejumlah balita di wilayah Pondok Puncung, Karang Tengah, Kota Tangerang, Banten muntah dan demam tinggi karena diberikan obat panas kedaluwarsa setelah imunisasi. (Foto: Sukron).
Sukron, Binti Mufarida

KARANG TENGAH, iNews.id - Sejumlah balita di wilayah Pondok Puncung, Karang Tengah, Kota Tangerang, Banten muntah dan demam tinggi. Kondisi tersebut setelah balita mengonsumsi obat kedaluwarsa.

Obat penurun panas itu diterima warga setelah balita mereka menerima program Bulan Imunisasi Anak Nasional yang dilaksanakan Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.

"Masalah sudah dua tahun (kedaluwarsanya) bukan sebulan dua bulan. Bulan empat 2020 (masa kedaluwarsanya)," ujar Widya Kusuma salah satu orang tua balita di Pondok Pucung, Banten, Rabu (10/8/2022).

Kegiatan suntik imunisasi campak itu dilaksanakan di tempat Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Kelurahan Pondok Pucung Kecamatan Karang yang diikuti ratusan balita secara bertahap.

Tujuan pemberian imunisasi tambahan Campak Rubella serta melengkapi dosis imunisasi polio dan DPT-Hb-Hib yang terlewat ini diharapkan dapat memberikan kekebalan imun pada balita.

Namun Dinkes Kota Tangerang diduga teledor karena memberikan obat imunisasi penurun panas pada orang tua balita dengan kondisi kedaluwarsa. Pada botol kemasan obat tertulis masa berlaku hingga 2020.

Akibatnya, sejumlah balita yang mengonsumsi obat penurun panas kedaluwarsa hingga demam tinggi hingga mual dan muntah- muntah.

Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Tangerang, Dini Anggareni menjelaskan, petugas puskesmas menemukan tiga obat PCT drop kedaluwarsa di dalam tas Posyandu, kemudian langsung dipisahkan dan berencana diserahkan ke petugas Farmasi Puskesmas. Namun, saat sampai Puskesmas petugas tersebut lupa menyerahkan kepada petugas Farmasi Puskesmas.

"Kami sangat menyayangkan kejadian ini dan memohon maaf sebesar-besarnya kepada para keluarga atas kelalaian pengelolaan obat  yang terjadi di luar gedung Puskesmas," ucap dr Dini.

Kemudian, kata dia saat pelaksanaan BIAN di Kenanga Pondok Pucung, obat tersebut terbawa sehingga diberikan kepada pasien karena berasal dari tas yang sama tanpa memeriksa kembali ED (expired date) obat yang diberikan. 

Selanjutnya diperoleh laporan dari kader atas kondisi salah satu bayi yang telah meminum obat dan petugas langsung bergerak melakukan penarikan obat tersebut.

"Diketahui, Posyandu sudah tidak aktif 2 tahun karena pandemi. Obat yang lama ini belum sempat dilaporkan atau dikembalikan ke petugas farmasi di puskesmas. Sekali lagi, Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga pasien,"  katanya.


Editor : Kurnia Illahi

BERITA TERKAIT