Di lahan tersebut, kini terdapat sekitar 900 hingga 1.000 tanaman lidah buaya yang dibudidayakan oleh para anggota KWT. Tanaman inilah yang kemudian menjadi bahan baku utama berbagai produk olahan yang mereka kembangkan, seperti minuman, keripik lidah buaya yang menjadi produk terlaris, permen, hingga sabun.
Perkembangan usaha KWT Sumber Boga Tamanan semakin terasa sejak kelompok ini terlibat dalam program Klasterku Hidupku dari BRI. Keterlibatan tersebut bermula ketika Desa Tamanmartani mengikuti program Desa BRILiaN dari BRI pada tahun 2024.
Dalam prosesnya, KWT Sumber Boga Tamanan turut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pemberdayaan yang membuka peluang bagi mereka untuk mendapatkan dukungan lebih luas dari BRI. Selain mendapatkan akses pembiayaan usaha, KWT Sumber Boga Tamanan juga memperoleh berbagai pelatihan yang membantu meningkatkan kapasitas anggota.
Nurul mengakui, tidak hanya pendanaan dan pendampingan usaha, BRI melalui aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR) BRI Peduli menyalurkan bantuan peralatan usaha.
"Bantuan CSR dari BRI ini sangat mendukung produktivitas KWT. Misalnya saja, dari bantuan tersebut kami alokasikan untuk sistem pengairan berbasis internet yang bisa dioperasikan lewat HP. Jadi, sekarang di mana pun posisi saya tetap bisa mengawasi sistem pengairan karena bisa diakses di HP," katanya.
Pada kesempatan terpisah, Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu R.K menyampaikan, kisah para perempuan di KWT Sumber Boga Tamanan menunjukkan bahwa dengan adanya akses dan pemberdayaan yang tepat, perempuan mampu menjadi motor penggerak ekonomi di lingkungannya.
“Pemberdayaan perempuan merupakan bagian penting dalam upaya menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. BRI terus mendukung akses bagi perempuan dalam memperoleh pembiayaan dan pendampingan usaha, sehingga mereka dapat meningkatkan kapasitas dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitarnya,” tuturnya.
Editor : Rizqa Leony Putri
Artikel Terkait