relawan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyiapkan menu harian untuk didistribusikan ke sekolah. (Foto: ist)

Sejak itu, hidupnya perlahan berubah. Ada kepastian insentif setiap bulan. Sesuatu yang dulu tak pernah ia rasakan ketika bergantung pada kebun dan proyek musiman.

“Kalau di kebun, saya tidak tahu alam yang berkuasa. Di sini saya hanya menunggu kapan menerima insentif,” kalimat itu diucapkannya dengan senyum kecil.

Dengan bekerja di dapur MBG, ia juga merasa bangga bisa menghadirkan senampan makanan sarat gizi untuk anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui dan balita. Anak kandung Frederick memang belum menjadi penerima manfaat MBG. Namun ia merasa bangga setiap kali melihat porsi makanan tersaji untuk para siswa.

Ia tahu betul kondisi di kampungnya. “Kadang anak-anak makan atau enggak, mereka jalan saja pergi sekolah. Dan itu membuat anak jadi lemah, bahkan pingsan”. 

Setelah ada MBG, Frederick menilai suasananya berbeda. “Mungkin lewat adanya sentuhan MBG ini, ya saya rasa anak itu senang. Senang sekali. Dan bahkan kita orang tua juga sangat senang,” ujarnya. 

Di dapur itu, Frederick tak hanya memotong ayam dan sayur. Ia merasa ikut memotong rantai lapar yang selama ini mengintai anak-anak desa.


Editor : Kastolani Marzuki

Halaman Selanjutnya
Halaman :
1 2 3
BERITA POPULER
+
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network