Ranteangin merupakan wilayah pegunungan dengan kondisi geografis yang menantang. Jalan menuju desa-desa di kawasan tersebut sebagian besar masih berupa tanah dan batu, sehingga hanya bisa diakses menggunakan sepeda motor.
"Wilayah desanya banyak kebun cengkeh, jadi rumah-rumah warganya jauh satu sama lain, yang dipisahkan oleh kebun cengkeh yang luas. Kalau mau ketemu nasabah satu ke yang lain, kita harus jalan jauh dulu. Ada juga yang wilayahnya mendaki, jadi nggak bisa diakses oleh motor. Kira-kira bisa 1-2 km jalan kaki dari satu rumah ke rumah lain," tuturnya.
Saat hujan turun, tantangan semakin berat. Jalan tanah yang licin membuat perjalanan menjadi lebih sulit. Di masa awal bertugas sebagai Mantri BRI, kondisi tersebut sempat membuatnya hampir menyerah.
"Sempat mau menyerah. Tapi setelah itu, mungkin ada jalannya sendiri. Besok paginya tiba-tiba semangat lagi untuk bekerja. Selain itu, yang bikin saya semangat juga karena nasabah-nasabahnya yang sangat baik menyambut saya. Bahkan waktu itu ada nasabah yang bilang kalau saya jangan mutasi dulu, tetap di sini saja sampai bertahun-tahun. Itu yang jadi sumber semangat saya juga," ujarnya.
Sebagai Mantri BRI, Mispa tidak hanya bertugas memberikan layanan perbankan, tetapi juga menjadi penggerak inklusi dan literasi keuangan bagi masyarakat. Sebagian besar warga di wilayah tersebut berprofesi sebagai petani cengkeh yang membutuhkan akses pembiayaan untuk mengembangkan usaha.
Selain melayani nasabah perorangan, Mispa juga mendampingi sebuah klaster usaha yang memproduksi minuman herbal berbahan tanaman rimpang bernama Gujames.
Editor : Rizqa Leony Putri
Artikel Terkait