Wartawan Korban Pengeroyokan di Aceh Barat Ditetapkan Jadi Tersangka Penganiayaan

Afsah, Antara ยท Jumat, 21 Februari 2020 - 10:58 WIB
Wartawan Korban Pengeroyokan di Aceh Barat Ditetapkan Jadi Tersangka Penganiayaan
Teuku Dedi Iskandar wartawan korban penganiayaan ditetapkan sebagai tersangka karena membela diri saat dikeroyok. Tampak korban saat dirawat di RS beberapa waktu lalu. (Foto: iNews/Afsah)

MEULABOH, iNews.id – Penyidik Polres Aceh Barat menetapkan Teuku Dedi Iskandar wartawan korban pengeroyokan sebagai tersangka kasus penganiayaan terhadap pelaku yang mengeroyoknya. Meski menjadi tersangka, namun penahanannya ditangguhkan.

Kejadian ini bermula saat korban didatangi sekitar lima terduga pelaku pada 20 Januari 2020. Seorang di antara kelompok tersebut menyodorkan kuitansi kosong kepada korban agar ditandatangani diduga soal utang piutang. Korban menolak hingga berujung dianiaya para pelaku.

Saat dikeroyok, korban berupaya membela diri agar lepas dari aniaya para pelaku. Namun setelah itu dia menjalani perawatan di RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh selama enam hari akibat pengeroyokan tersebut.

Tak terima, korban melalui istrinya membuat laporan polisi ke Polres Aceh Barat. Polisi yang menyelidiki kasus tersebut menetapkan dua tersangka dari lima orang yang mengeroyoknya. Namun penahanan mereka ditangguhkan.

Para pengeroyok ini juga melaporkan korban atas tuduhan penganiayaan. Dalam perkara ini, korban pun ditetapkan sebagai tersangka. Antara korban dan para pengeroyok sama-sama saling lapor.

Teuku Dedi Iskandar mengatakan, dia ditetapkan sebagai tersangka dengan delik sesuai Pasal 351 jo 352 KUHP tentang Penganiayaan atas laporan seorang pelaku pengeroyok.

"Hari ini saya dipanggil dan diperiksa sebagai tersangka. Pemeriksaan berlangsung di ruang Unit I Reskrimum Polres Aceh Barat mulai pukul 10.00 WIB hingga 13.00 WIB," kata Dedi di Meulaboh, Kamis (20/2/2020).

Sebelumnya, penyidik Polres Aceh Barat sudah melayangkan surat pemeriksaan sebagai tersangka pada 10 Februari 2020. Namun, dia meminta pemeriksaan ditunda karena pada 9 Februari menghadiri Hari Pers Nasional (HPN) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel).

"Saya menilai janggal kasus ini. Saat itu, saya hanya berusaha membela diri agar tidak menjadi bulan-bulanan pengeroyok. Tapi, malah saya dijadikan tersangka," katanya.

Dedi menjelaskan jika dia dituduh mencekik pelaku pengeroyok. Padahal, saat itu hanya berupaya melepaskan diri dari pegangan para pelaku agar tidak terus dipukuli.

"Saya dalam posisi membela diri dari pengeroyokan yang jumlah mereka lebih lima orang. Akibat pengeroyokan tersebut, saya dirawat di rumah sakit hampir sepekan lamanya," ucapnya.

Kepada penyidik, Dedi Iskandar yang juga Ketua PWI Aceh Barat sudah menjelaskan semuanya. Termasuk kejelasan dia tak pernah mencekik pelapor saat pengeroyokan.

"Untuk laporan saya dua tersangka ditangguhkan. Mereka dijerat pasal 170 KUHP. Semoga penyidik bersikap adil dan menetapkan mereka semua yang mengeroyok saya sebagai tersangka karena ada lima orang," ujar Dedi.


Editor : Donald Karouw