Trauma Berat, Ibu Rangga Korban Pemerkosaan di Aceh Timur Belum Berani Pulang

Muhammad Maulidin ยท Kamis, 15 Oktober 2020 - 21:08 WIB
Trauma Berat, Ibu Rangga Korban Pemerkosaan di Aceh Timur Belum Berani Pulang
Warga mendatangi rumah kelurag Rangga, bocah SD yang tewas dibunuh saat menolong ibunya yang akan diperkosa di Aceh Timur. (Foto: iNews/Muhammad Maulidin)

ACEH TIMUR, iNews.id – DN (36) ibu Rangga yang menjadi korban pemerkosaan oleh residivis kasus pembunuhan bernama Samsul Bahri (41) masih trauma usai mengalami kejadian tragis. DN sudah keluar dari rumah sakit namun kondisi kejiwaannya masih terguncang dan trauma.

DN pun belum berani pulang ke rumahnya di Desa Alue Gadeng, Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Timur.

Ketua Balai Sura Kota Langsa, Sherly Mardelina mengatakan, hingga saat ini korban dan suaminya belum berani pulang ke rumah karena masih sangat trauma atas musibah tersebut.

“Korban masih sangat terpukul atas kejadian itu. Sampai sekarang belum mau pulang ke rumah,” katanya, Kamis (15/10/2020).

Sherly mengaku siap mendampingi dan membantu korban untuk rehabilitasi psikisnya. “Kami juga sangat prihatin atas kondisi kehidupan keluarga ini,” ucapnya.
 Menurut Sherly, keluarga DN, ibu Rangga berasal dari keluarga miskin. Selain kehidupannya pas-pasan mereka memiliki rumah yang tidak layak huni. Namun kondisi kehidupan keluarga ini luput dari perhatian pemerintah.

Selain berdinding papan limbah juga beratap seng bekas dan berlantai tanah.

“Kehidupan keluarga ini tergolong sangat miskin. Suami korban tidak memiliki pekerjaan,” ucapnya.

Untuk memenuhi kebutuhan kehidupan keluarganya, kata dia, Aiyub, suami korban bekerja sebagai pencari ikan air tawar. “Saat peristiwa pemerkosaan dan pembunuhan anaknya, Pak Aiyub sedang mencari ikan di sungai,” katanya.

DN diketahui mempunyai dua anak yakni, Rangga (10) yang meinggal dibunuh pelaku dan adiknya, Farid (5).

Untuk pelaku pembunuhan, Sherly meminta agar dihukum setimpal dengan perbuatannya. Sherly juga sangat menyayangkan pelaku yang merupakan residivis pembunuhan dikeluarkan berdasarkan pemberian asimilasi.


Editor : Kastolani Marzuki