Terpapar Kabut Asap, Belasan Orangutan di Nyaru Menteng Kalteng Menderita ISPA

Antara ยท Selasa, 17 September 2019 - 07:30 WIB
Terpapar Kabut Asap, Belasan Orangutan di Nyaru Menteng Kalteng Menderita ISPA
Orangutan Kalimantan. (Foto: Istimewa).

PALANGKARAYA, iNews.id - Belasan orangutan yang direhabilitasi di Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (BOS), kawasan Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah (Kalteng), terinfeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan kabut asap beberapa pekan terakhir ini.

Dokter hewan di Yayasan BOS, drh Viet, orangutan yang terpapar ISPA ini mulai dari dewasa hingga balita. Baik mereka yang berada di dalam kandang atau sedang mengikuti sekolah hutan.

"Lokasi sekolah hutan memang tidak terlalu jauh dari hutan yang terbakar. Kemungkinan itu salah satu yang menyebabkan belasan orangutan mengalami ISPA," kata Viet kepada wartawan di Kota Palangkaraya, Kalteng, Selasa (17/9/2019).

Mengenai orangutan hasil rehabilitasi yang sudah dilepas di sejumlah hutan, pihak yayasan hingga kini belum mendapat laporan kalau satwa-satwa tersebut juga ikut terpapar kabut asap.

Seorang petugas mengevakuasi orangutan yang dipelihara warga di Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang. (Foto: Antara)

Meski ada yang bertugas memantau orangutan di hutan lepas, namun sebagian besar belakangan ini lebih fokus memantau dan merawat orangutan yang berada di pusat rehabilitasi, khususnya sejak muncul kabut asap kebakaran hutan (karhutla).

"Apabila ada yang terinfeksi, langsung ditangani dengan memberikan ramuan herbal dan suplemen vitamin serta lainnya. Sebab, karena kabut asap ini, ISPA menjadi penyakit kambuhan," ujarnya.

Data Indeks Standar Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kondisi udara di Provinsi Kalteng, khususnya Kota Palangkaraya telah berada di level berbahaya.

Kabut asap pekat akibat karhutla juga membuat pemerintah daerah meliburkan aktivitas belajar mengajar dari tingkat TK hingga perguruan tinggi. Penerbangan dari dan ke Bandara Tjilik Riwut Kota Palangka Raya pun banyak yang dibatalkan.


Editor : Andi Mohammad Ikhbal