Takut Tsunami Susulan, Warga Pandeglang Ronda Pantau Air Selat Sunda

Iskandar Nasution ยท Rabu, 26 Desember 2018 - 01:10 WIB
Takut Tsunami Susulan, Warga Pandeglang Ronda Pantau Air Selat Sunda
Gunung Anak Krakatau sepanjang Selasa (25/12/2018) terus memuntahkan lava pijar disertai abu vulkanik dan kilatan cahaya putih seperti petir. (Foto: iNews.id/Iskandar Nasution)

PANDEGLANG, iNews.id – Warga Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten sepanjang malam terus memantau pergerakan air laut dan letusan Gunung Anak Krakatau.

Pemantauan kondisi air itu dilakukan karena mereka khawatir terjadi tsunami susulan lantaran hingga kini kondisi gunung teraktif di Asia itu yang berada di Selat Sunda, Banten masih menyemburkan lava pijar.

Ya, tiap malam warga di sini ronda giliran. Kebetulan saya lagi ikut suami ronda lihat pergerakan air laut,” ucap Yati Badriah, Selasa (25/12/2018).

Yati mengakui warga di desanya sangat trauma dengan terjadinya tsunami yang memorakporandakan rumah dan desa mereka. Bencana itu juga menewaskan ratusan warga Tanjung Lesung. “Takut ada tsunami susulan,” ucapnya.

Sejak bencana itu terjadi, kata dia, ribuan warga Kecamatan Tanjung Lesung dan Panimbang tiap malam harus mengungsi di beberapa lokasi pengungsian. Mereka takut terjadi tsunami susulan apalagi saat ini ombak terlihat tinggi akibat adanya pergerakan angin dan musim barat. “Kalau malam ngungsi karena takut ombak tinggi. Kalau siang warga balik lagi ke rumah,” tandasnya.

Sebelumnya, masyarakat Pasir Tanjung, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten kembali berhamburan ke luar rumah setelah air laut terjadi kenaikkan di pesisir Pantai Batako.

Masyarakat panik melihat air laut terjadi kenaikkan, padahal sudah kembali dari pengungsian. "Kami bersama anak terpaksa berlari untuk menyelamatkan diri," kata Aminah (55) warga Pasir Tanjung, Kabupaten Pandeglang, Selasa (25/12/2018).

Menurut Aminah, saat itu, dirinya bersama anak tengah beristirahat setelah membersihkan perabotan rumah tangga. Namun, ketua rukun tetangga menginformasikan air laut kembali naik, sehingga warga ketakutan.
"Kami hanya membawa baju satu plastik,karena panik itu," ujarnya.

Sueb (50) seorang warga Pasir Tanjung Pandeglang mengaku dirinya merasa ketakutan adanya air laut naik, sehingga isteri dan anak langsung naik kendaraan roda dua untuk penyelamatan.


Editor : Kastolani Marzuki