Soal Klaim Natuna, Ketum PBNU: Harus Dilawan, Tapi Jangan Benci Etnis China

Haryanto ยท Selasa, 14 Januari 2020 - 20:09 WIB
Soal Klaim Natuna, Ketum PBNU: Harus Dilawan, Tapi Jangan Benci Etnis China
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menanggapi soal klaim Natuna oleh China di Pangkalpinang. (Foto: iNews/Haryanto)

PANGKALPINANG, iNews.id – Kampanye rasis berupa penyebaran kebencian dan permusuhan terhadap suku bangsa China kembali menyeruak setelah hubungan diplomatik Indonesia-China sempat memanas akibat klaim terhadap perairan Natuna, Kepulauan Riau. Isu rasis bahkan semakin gencar disuarakan sejumlah pihak terkait berita tentang penindasan terhadap Muslim Uighur di China.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, tindakan China yang mengklaim perairan Natuna memang harus dilawan, tapi bukan berarti memusuhi bangsa China. “Karena yang perlu dimusuhi adalah perbuatan China yang sudah melanggar kedaulatan Indonesia. Karena itu, pemerintah harus segera menyelesaikan konflik di laut Natuna,” kata Said Aqil saat menghadiri tabligh akbar dan pelantikan pengurus PWNU Kepulauan Bangka Belitung di Ponpes Pangkalpinang, Selasa (14/1/2020).

Menurut Kiai Said, sikap benci dan permusuhan yang didasarkan pada perbedaan suku bangsa atau agama sangat bertentangan dengan ajaran Islam. “Jadi, menilai seseorang atau siapa pun bukan dari etniknya, tapi dari perilakunya,” katanya.

BACA JUGA:

PBNU Minta China Berhenti Provokasi Langgar Perairan Indonesia

China Obok-Obok Natuna, DPR Minta Prabowo Lakukan Langkah Ini

Secara historis, kata Kiai Said, bangsa China dan umat Islam di Indonesia memiliki hubungan yang sudah terjalin sejak ribuan tahun lalu, bahkan tidak sedikit tokoh Islam Nusantara yang berasal dari etnis Hokian, China. 

“Inkulturasi budaya China-Indonesia juga tercermin dari adanya penyerapan beberapa kosa kata bahasa China yang sudah diadopsi menjadi bahasa Indonesia, seperti kosa kata becak, bakso, bakmi dan sebagainya. Karena itu, kita harus saling menghormati,” katanya.

Kiai Said mengatakan, umat Muslim khususnya NU selalu menganggap suku bangsa China sebagai saudara sesama manusia, apalagi bangsa Indonesia memiliki hubungan historis termasuk dalam penyebaran agama Islam di Nusantara.

Menurut Kiai Said, salah satu walisongo yang menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa juga merupakan keturunan suku bangsa China. “Raden Fatah yang menyebarkan agama Islam di Demak, ibunya China. Gus Dur dari silsilahnya juga ada darah China,” katanya.


Editor : Kastolani Marzuki