Sirine Tsunami Berbunyi, Warga dan Pasien Puskesmas Dievakuasi Paksa

Iskandar Nasution ยท Minggu, 23 Desember 2018 - 16:28 WIB
Sirine Tsunami Berbunyi, Warga dan Pasien Puskesmas Dievakuasi Paksa
Petugas medis mengevakuasi pasien yang dirawat di Puskesmas Carita, Pandeglang, Banten mengantisipasi tsunami susulan. (Foto: iNews.id/Iskandar Nasution)

PANDEGLANG, iNews.id – Warga Carita, Pandeglang, Banten lari berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri setelah suara sirine tanda bahaya tsunami berbunyi, Minggu (23/12/2018) siang.

Mereka berlari ke jalan lantaran takut diterjang tsunami susulan. Kepanikan juga dialami keluarga dan puluhan pasien yang sedang dirawat di Puskesmas Carita, Pandeglang.

Di bawah guyuran hujan deras, para pasien dievakuasi ke tempat yang lebih aman oleh petugas gabungan menggunakan ambulans.

“Ada suara sirine tsunami. Dua kali bunyi makanya kita tadi pada naik ke atas,” kata Nani, keluarga pasien asal RSUD Tarakan, Jakarta.

Nani mengaku ada beberapa petugas RSUD Tarakan yang mengalami luka-luka saat tsunami melanda Pantai Anyer. “Saya lagi ndata berapa orang dari RSUD Tarakan yang dirawat di sini (Puskesmas Carita),” ucapnya.

Mengantisipasi tsunami susulan, petugas untuk sementara menutup pelayanan di Puskesmas Carita karena tempat tersebut berdekatan dengan laut.

BACA JUGA:

BNPB: Tsunami Selat Sunda Dipicu Longsoran Erupsi Gunung Anak Krakatau

BNPB: Fenomena Tsunami di Selat Sunda Termasuk Langka

Kapolri: Korban Tewas Tsunami di Banten 126 Jiwa, Lampung 36 Meninggal

Hingga pukul 13.00 WIB, BNPB mendata jumlah korban tsunami Selat Sunda tercatat sebanyak 168 orang meninggal dunia, 745 luka-luka, 30 orang hilang, 558 rumah rusak, sembilan hotel rusak berat, 60 warung kuliner rusak, 350 kapal dan perahu rusak.

Data tersebut berasal dari tiga kabupaten yang terdampak tsunami yaitu Pandeglang, Serang dan Lampung Selatan.

Daerah yang mengalami kerusakan paling parah berada di Kabupaten Pandeglang dengan 126 korban meninggal dunia, 624 korban luka-luka, empat hilang, 446 rumah rusak, sembilan hotel rusak berat, 350 kapal dan perahu rusak, 60 warung rusak, dan kerusakan puluhan mobil serta sepeda motor. Sejumlah akses jalan juga dilaporkan mengalami kerusakan seperti Serang dan Pandeglang yang terputus.

"Terkait dengan banyaknya korban, hal itu disebabkan karena wilayah terdampak merupakan tempat tujuan wisata dan kebetulan kejadian terjadi saat libur panjang," katanya.

Sutopo menyatakan, tsunami Selat Sunda tersebut datang secara tiba-tiba pada Sabtu (22/12) malam sekitar pukul 21.27 WIB dengan ketinggian dua hingga tiga meter. "Tidak ada tanda-tanda, gejala atau peringatan dini dari pihak manapun terkait kejadian tersebut," katanya.

Seluruh pihak terkait, lanjut dia, masih terus melakukan evakuasi terhadap korban tsunami dengan menggunakan sejumlah alat berat dan pendataan terhadap daerah terdampak.

Terkait berbunyinya sirine di Kabupaten Pandeglang pada Minggu  siang, Sutopo menyatakan, hal itu bukan dipengaruhi oleh tsunami susulan tetapi dimungkinkan karena kerusakan peralatan.

"Sirine tersebut merupakan milik BMKG yang dioperasionalkan oleh BPBD setempat. BMKG memastikan tidak mengaktifkan sirine tersebut. Namun, masyarakat tetap diminta waspada dan sebaiknya menghindari pantai,” katanya.


Editor : Kastolani Marzuki