Setahun Berlalu, Korban Likuifaksi di Balaroa Palu Masih Tinggal di Tenda Pengungsian

M Ridwan Lapasele ยท Senin, 28 Oktober 2019 - 11:53 WIB
Setahun Berlalu, Korban Likuifaksi di Balaroa Palu Masih Tinggal di Tenda Pengungsian
Warga korban bencana likuifaksi di Balaroa Palu yang masih tinggal di tenda pengungsian selama lebih dari setahum. (Foto: iNews/M Ridwan Lapasele)

PALU, iNews.id – Sedikitnya 200-an kepala keluarga (KK) korban bencana likuifaksi di Kelurahan Balaroa, Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), masih tinggal di tenda pengungsian. Setahun lebih bencana berlalu, ratusan warga ini tetap bertahan sambil menunggu penuh harap akan hunian tetap (huntap) yang dibangun pemerintah dan pihak donator.

Pantauan iNews, para pengungsi korban bencana yang terjadi pada 28 September 2018 silam, masih menempati tenda terpal milik lembaga kemanusiaan. Mereka menunggu giliran namanya terdaftar sebagai penerima bangunan huntap di Kelurahan Balaroa. Di mana jarak lokasi pembangunan huntap dengan tenda pengungsian saling berdekatan.

Satu di antara pengungsi yang bertahan yakni Milham. Dia menceritakan, saat ini ada 200-an KK yang bertahan di tenda pengungsian. Mereka tak punya pilihan lain karena lokasi hunian sementara (huntara) yang dibangun untuk warga Balaroa, jauh dari tempat tinggal sebelumnya. Alasan ini membuatnya bertahan di tenda agar tak jauh untuk beraktivitas.

“Dulu ada 700-an KK yang bertahan, sekarang tersisa 200-an. Sudah setahun lebih kami di sini, sampai bagian terpal tendanya banyak yang rusak,” kata Milhan, Senin (28/10/2019).

Dia mengungkapkan, warga menunggu pembangunan huntap yang dijanjikan pemerintah. Pembangunan ini dikerjakan dua tahap, di mana untuk yang pertama baru saja dimulai. Ada 123 huntap yang sedang dalam proses pembangunan.

“Kami dengar ada 200-an penerima huntap untuk dua tahap ini. Saya belum dapat, katanya nanti pada tahap kedua yang pembangunannya dimulai tahun depan,” kata Milham.

Hingga saat ini, masih banyak pengungsi korban bencana gempa, likuifaksi dan tsunami Sulteng, masih tinggal di tenda pengungsian maupun huntara.

Bantuan pemerintah seperti jaminan hidup satu tahun pascabenca, santunan duka dan dana stimulan sudah didistribusikan.

Kendati demikian, belum seluruh penyintas telah menerimanya bantuan. Seperti di Kelurahan Balaroa, korban tercatat 3.119 orang namun yang telah menerima jaminan hidup tahap pertama baru 1.600. Masih tersisa 1.000-an yang belum mendapat bantuan jaminan hidup hingga saat ini.


Editor : Donald Karouw