Sejarah Puasa Asyura di Bulan Muharram, Benarkah Tradisi Umat Yahudi?

Kastolani ยท Minggu, 08 September 2019 - 22:15 WIB
Sejarah Puasa Asyura di Bulan Muharram, Benarkah Tradisi Umat Yahudi?
Puasa Asyura di Bulan Muharram sangat dianjurkan bagi umat Islam karena pahalanya sangat besar. (Foto: istimewa)

JAKARTA, iNews.id – Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang mulia. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, salah satunya puasa Asyura atau puasa pada tanggal 10 Muharram yang jatuh pada Selasa, 10 September 2019.

Puasa Asyura memiliki sejarah yang panjang. Puasa ini sudah dipraktikkan orang Jahiliyah dan umat Yahudi, jauh sebelum datangnya Islam. Mereka berpuasa pada Hari Raya Yom Kippur tanggal 10 bulan Tishri atau 10 Muharram karena pada hari itu Allah menyelamatkan Bani Israel dari musuh-musuhnya. 

Sebagai rasa syukur, Nabi Musa as. berpuasa pada hari itu, atau 10 Muharram. Setelah kejadian itu, jadilah puasa Asyura menjadi syariat’ bagi umat Yahudi. 

Dalam Kitab Fatkhul Bari, Al-Qurtuby berkata : “Mungkin orang-orang Qurais dulu menyandarkan puasanya kepada syari'at nabi terdahulu seperti Nabi Ibrahim. Sedangkan puasanya Rasulullah SAW, bisa jadi karena kecocokan kepada mereka sebagaimana dalam masalah haji, atau karena Allah mengizini beliau untuk berpuasa karena itu termasuk pekerjaan yang baik.

Ketika beliau hijrah ke Madinah dan menemukan orang-orang Yahudi berpuasa Asyura, kemudian Nabi bertanya dan memerintahkan untuk berpuasa maka bisa jadi hal tersebut tujuannya untuk meluluhkan hatinya orang-orang Yahudi sebagaimana Nabi meluluhkan hati mereka dalam masalah kiblat mereka, dan bisa jadi karena hal lainnya. 

Namun intinya, Nabi SAW berpuasa hari Asyuro bukan sebab dimulai oleh umat Yahudi dan kaum Qurais, karena sebelumnya nabi sudah berpuasa Asyuro dan waktu itu adalah waktu disukainya mencocoki ahlul kitab dalam hal-hal yang tidak dilarang".

Dari ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:.
Nabi shallallalhu ‘alaihi wa salam tiba di Madinah, maka beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa hari ‘Asyura. Beliau bertanya kepada mereka: “Ada apa ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Maka Nabi Musa berpuasa pada hari ini.” Nabi shallallalhu ‘alaihi wa salam bersabda, “Saya lebih layak dengan nabi Musa dibandingkan kalian.”Maka beliau berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan para shahabat untuk berpuasa ‘Asyura.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Nabi Muhammad kemudian memerintahkan umat Islam untuk berpuasa pada hari itu; siapa yang sudah makan, maka bisa berpuasa pada sisa hari itu dan siapa yang belum hendaklah berpuasa –jangan makan. 

Agar tidak menyamai syariat umat Yahudi tersebut, Nabi Muhammad juga memerintahkan untuk berpuasa pada tanggal 9 (hari Tasu’a) dan 11 Muharram sesuai hadits riwayat Ahmad di atas.  

Perintah tersebut disampaikan Nabi Muhammad pada awal tahun kedua beliau tinggal di Madinah –Nabi tiba di Madinah pada bulan Rabiu’ul Awwal. Beberapa bulan setelahnya (tujuh bulan setelahnya, atau 18 bulan setelah tinggal di Madinah), Nabi Muhammad menerima wahyu tentang perintah puasa Ramadhan. 

Dengan demikian, puasa Asyura dilaksanakan sebagai puasa wajib hanya satu kali saja. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Setelah turunnya ayat ini dan puasa Ramadhan telah diwajibkan, maka Nabi Muhammad tidak lagi mewajibkan puasa Asyura bagi umat Islam. Mereka boleh berpuasa Asyura dan tidak berpuasa juga boleh.  

Namun demikian, Nabi Muhammad sangat mengajurkan berpuasa Asyura. Hal ini bisa dilihat dari hadits riwayat Ibnu Abbas. “Saya tidak mengetahui Rasulullah SAW bersungguh-sungguh untuk berpuasa kecuali pada hari ini, yakni hari Asyura,” kata Ibnu Abbas.  


Sumber:

http://www.piss-ktb.com/2012/02/757-puasa-puasa-asyura.html


Editor : Kastolani Marzuki