Puluhan Warga Aceh Besar Tolak Rumah di Kompleks Jadi Lokasi Isolasi Pasien Covid-19

Antara ยท Sabtu, 15 Agustus 2020 - 18:39 WIB
Puluhan Warga Aceh Besar Tolak Rumah di Kompleks Jadi Lokasi Isolasi Pasien Covid-19
Warga menggelar aksi penolakan keberadaan rumah isolasi di desanya, Gampong Tanjong, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Sabtu (15/8/2020). (Foto: Antara)

BANDA ACEH, iNews.id - Penolakan dari warga terhadap pasien Covid-19 masih saja terjadi. Puluhan warga kompleks Perumahan Tanjung Indah (Bulog) di Gampong atau Desa Tanjong, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, menolak salah satu rumah di kompleksnya dijadikan tempat isolasi pasien oleh pemerintah daerah setempat.

Warga Desa Tanjong menolak dengan tegas penunjukan rumah isolasi bagi pasien Covid-19 oleh Dinas Kesehatan Aceh Besar itu karena berada di tengah permukiman padat penduduk. Selain itu, pemerintah sebelumnya memilih rumah tersebut tanpa persetujuan dari masyarakat setempat.

"Salah satu rumah di Gampong Tanjong dijadikan tempat karantina pasien Covid-19 ini ditetapkan tanpa koordinasi, sosialisasi, dan persetujuan dari masyarakat gampong," kata salah satu warga, Tuti di sela-sela aksi protes di kawasan rumah isolasi tersebut di Aceh Besar.

Bangunan dua lantai yang sudah lama tanpa penduduk itu dijadikan rumah isolasi oleh pemerintah secara sepihak. Bahkan, sudah ada sejumlah pasien Covid-19 yang diisolasi di dalamnya.

Menurut Tuti, pasien yang diisolasi tersebut semuanya laki-laki. Warga juga khawatir karena pasien tanpa memakai masker bebas berkeliaran keluar rumah di kawasan kompleks saat malam hari untuk membeli jajanan.

"Waktu malam hari, mereka keluar rumah untuk beli jajanan tanpa pakai masker. Sampah medis dan nonmedis juga berserakan. Setelah ditegur baru dibersihkan. Kemudian tidak ada tempat penanganan limbah di rumah itu, jadi enggak pantas mereka tinggal di sini," ujarnya.

Warga menilai penetapan rumah isolasi itu tidak memenuhi syarat. Bahkan, keberadaan rumah itu dinilai tidak sesuai dengan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah dan melanggar aturan terkait dengan karantina seperti diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan.

"Kami mendesak Bupati Aceh Besar, khususnya Dinas Kesehatan untuk bertanggung jawab jika suatu saat akibat penempatan pasien Covid-19 ini menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat di Gampong Tanjong," katanya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Aceh Besar Anita meminta masyarakat memahami, pemerintah sebenarnya telah mengeluarkan peraturan setiap desa wajib memiliki tempat isolasi mandiri pasien Covid-19. Rumah isolasi itu penting dalam upaya percepatan penanganan pandemi virus corona.

Tempat isolasi di desa itu diperlukan bagi pasien yang terkonfirmasi positif, namun tidak memiliki gejala (OTG). Aparatur desa dapat menyediakan tempat tersebut dengan menggunakan Dana Desa.

"Anggarannya dari anggaran desa, bagi OTG. Kecuali yang positif dengan menunjukkan standar gejala, maka itu semuanya harus dibawa ke ruang isolasi pinere rumah sakit," kata Anita.

Menurut dia, rumah isolasi di Desa Tanjong tersebut merupakan lokasi yang tepat untuk tempat isolasi. Letaknya agak jauh dari rumah penduduk, dilengkapi dengan pagar pembatas yang bagus agar setiap pasien tidak berkeliaran.

Meskipun kini rumah tersebut ditempati oleh tenaga kesehatan yang positif Covid-19, apabila warga setempat ada yang positif juga dapat menggunakannya. Pemerintah telah menyewa rumah itu sehingga aparatur desa tidak perlu mengeluarkan lagi Dana Desa.

"Saya menjamin pasien yang ada di rumah isolasi itu tidak berkeliaran. Yang keluar itu hanya satpam ada dua orang untuk membeli beberapa keperluan, yang positif enggak keluar. Satpam ini negatif, dua kali sudah uji swab (usap) dan alhamdulillah negatif," ujarnya.


Editor : Maria Christina