Perdagangan Anak dan Perempuan Rentan bagi Korban Bencana Sulteng

Antara ยท Senin, 26 November 2018 - 17:57 WIB
Perdagangan Anak dan Perempuan Rentan bagi Korban Bencana Sulteng
Warga terdampak bencana gempa dan tsunami Sulteng masih bertahan di dalam tenda darurat. Tampak lokasi penampungan di halaman Universitas Alkhairaat Palu, Sulteng, Selasa (13/11/2018).(ANTARA FOTO/Basri Marzuki)

PALU, iNews.id –  Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sulawesi Tengah (Sulteng) menyatakan, praktik perdagangan manusia atau perdagangan anak dan perempuan patut diwaspadai pascabencana gempa, tsunami dan likuifaksi. Selain itu, perlu dicegah sedini mungkin oknum tertentu yang melacurkan perempuan dan remaja.

"Seperti pengalaman di daerah lain pascabencana, banyak terjadi hal-hal menyangkut tindak kekerasan terhadap perempuan. Mulai dari pemerkosaan, pelecehan seksual trafficking, maupun perdagangan anak," ujar Ketua Divisi Pendampingan Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak P2TP2A Sulteng Nudiatulhuda Mangun di Palu, Senin (26/11/2018).

Dia menjelaskan, faktor penyebab terjadinya hal yang harus dicegah ini yakni besarnya beban hidup warga pascabencana, khususnya bagi para perempuan. , Hal itu membuat mereka rentan mendapat perlakuan kekerasan. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan. Sebaliknya, harus secepat mungkin disikapi dan dicegah sedini mungkin.

Ini yang tentu harus dihindari. Kita cegah bersama-sama, jangan sampai terjadi di daerah pascabencana," kata Inun-sapaan akrab Nudiatulhuda.


Aktivis perempuan itu menyarankan kepada pemerintah daerah untuk lebih menggiatkan upaya-upaya perlindungan dan pemenuhan hak-hak perempuan, demi mencegah terjadinya praktik-praktik tersebut.

"Pemerintah sudah berbuat dan sudah hadir dalam bencana di Sulteng ini. Tetapi mungkin harus lebih digiatkan lagi, lebih diintensifkan lagi upaya-upaya tersebut," ujarnya.

Pemerintah termasuk Kementerian PPPA telah membentuk program termasuk cluster-cluster dalam pencegahan kekerasan maupun perdagangan manusia. Namun perlu diakui, daerah ini masih kekurangan relawan untuk memberikan sosialisasi atau pemahaman kepada masyarakat tentang perlindungan dan pemenuhan hak perempuan-anak, serta kemampuan untuk survive pascabencana.

Dia mengungkapkan, perempuan dan anak menjadi kelompok yang paling berdampak pascabencana. Hal itu karena beban dalam rumah tangga ditimpakan kepada mereka.

"Ini harus disikapi secara serius dan berkesinambungan dalam menangani persoalan-persoalan yang akan dihadapi oleh perempuan dan anak pascabencana," ujarnya.


Editor : Donald Karouw