Pencinta Reptil di Palangkaraya Tewas Digigit King Cobra Peliharaannya

Ade Sata ยท Selasa, 10 Juli 2018 - 09:17 WIB
Pencinta Reptil di Palangkaraya Tewas Digigit King Cobra Peliharaannya
Foto terakhir korban Rizki Ahmad saat bersama king cobra peliharaannya. (Foto: iNews/Ade Sata)

PALANGKARAYA, iNews.id – Nyawa Rizki Ahmad (19), seorang pencinta reptil asal Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya, Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng) tak tertolong. Korban sempat dirawat selama seharian penuh di ruang Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Doris Sylvanus, namun akhirnya mengembuskan napas terakhir akibat digigit ular king cobra peliharaannya, Senin (10/7/2018).

Informasi yang dirangkum iNews, awal kejadian bermula saat Rizki membawa ular peliharaannya itu ke lokasi car free day (CFC) di Bundaran Besar Palangkaraya, Minggu (8/7/2018). Saat sedang memamerkan kebolehannya bermain bersama king cobra sepanjang tiga meter miliknya, secara tiba-tiba dia dipatuk ular kesayangannya tersebut.

Rizki langsung dilarikan ke rumah sakit dan mendapat penanganan khusus karena mengalami koma dan sebagian badannya membiru. Setelah seharian berjuang dan mendapat perawatan, tubuh Rizki akhirnya menyerah. Hasil pemeriksaan tim dokter RSUD dr Doris Sylvanus, korban tewas akibat racun atau bisa ular yang masuk ke sistem peredaran darah hingga menyebabkan gagal napas dan jantung.

“Kami sudah berikan pertolongan serum antiracun ular delapan kali ke tubuh korban. Tapi karena racunnya sangat kuat, serumnya tak bekerja maksimal. Kami juga telah memesan serum terbaru, namun obatnya masih dalam perjalanan, korban sudah meninggal,” kata Humas RSUD dr Doris Sylvanus Theodorus, Senin (9/7/2018)

Orang tua korban Suradi Duyen mengungkapkan tak menyangka hal seperti ini bisa terjadi. “Ular itu milik anak saya. Dia sudah terbiasa bermain dengan king kobra peliharaannya,” kata ayah korban.

Jenazah korban kemudian dibawa ke rumah duka untuk dimakamkan oleh pihak keluarga. Sementara king cobra peliharaan almarhum akan diserahkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Palangkaraya.


Editor : Donald Karouw