Debat Terbuka Pilkada Morowali 2018

Paslon ADAM Kritik Program 1 Desa 1 Dokter, Ini Jawaban SAH

Maria Christina Malau · Jumat, 27 April 2018 - 21:55:00 WIB
Paslon ADAM Kritik Program 1 Desa 1 Dokter, Ini Jawaban SAH
Debat terbuka kedua Pilkada Kabupaten Morowali yang disiarkan iNews TV. (Foto: iNews)

JAKARTA, iNews.id - Debat terbuka pasangan Calon Bupati-Calon Wakil Bupati (Cabup-Cawabup) Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng), berlangsung adem ayem. Namun, debat mulai memanas saat paslon nomor urut 2, Ambo Dalle-Aminuddin Awaludin (ADAM) menanyakan salah satu program paslon nomor urut 3 Syarifudin Hafid-Chaerudin M Zen (SAH) mengenai program satu desa satu dokter. Menurut mereka, program ini sulit terwujud karena anggaran Kabupaten Morowali yang defisit. Selain itu, dokter juga dinilai enggan bertugas di daerah pedesaan.

“Anggaran Kabupaten Morowali saat ini ketahui sedang defisit. Lalu bagaimana saudara bisa meyakinkan dokter bisa tinggal di desa,” kata Calon Bupati Morowali Nomor Urut 2, Ambo Dalle kepada Syarifudin Hafid-Chaerudin M Zen dalam debat yang berlangsung di Gedung Serbaguna Ahmad Hadie, Morowali, Jumat (27/4/2018) malam. 

Menjawab pertanyaan ini, Syarifudin Hafid mengatakan, program itu menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Meyakinkan dokter tinggal di desa cukup gampang. Pemerintah nantinya akan bekerja sama dengan universitas dan menawarkan insentif tinggi kepada dokter.

“Sekarang saja ada 13 dokter ahli di Morowali. Kalau kita berikan insentif tinggi, misalnya insentifnya Rp10 juta, maka dokter akan berbondong-bondong, bahkan bisa 200 yang datang ke Morowali," kata Syarifuddin Hafid.

Syarifuddin juga menegaskakan, program satu dokter satu desa sangat realistis karena program ini diprioritaskan untuk desa-desa terpencil. Sementara untuk desa yang tidak berada di kawasan terpencil dan daerah perkotaan, tidak lagi membutuhkan program ini karena sudah dilengkapi dengan sarana rumah sakit umum dan puskesmas. "Jadi ini hanya kami priorotaskan di daerah terisolasi," ujarnya.

Meski paslon nomor urut 2 ragu program ini terealisasi karena masalah anggaran Kabupaten Morowali yang defisit,  Syarifuddin justru optimistis tidak akan mengalami kendala. Jika terpilih sebagai bupati dan wakil bupati, pasangan ini akan terlebih dahulu membahas masalah penganggaran dengan pihak legislatif sehingga penganggaran disesuaikan dengan visi misi bupati dan wakil bupati. "Harus disepakati dulu antara eksekutif dan legislatif, agar anggaran sesuai visi misi. Dengan begini, sistem juga akan kami perbaiki," paparnya.

Namun, penjelasan Syarifuddin tetap membuat cabup nomor urut 2, Ambo Dalle ragu pada program satu dokter satu desa. Sebab, dari pengalamannya yang pernah menjadi ketua DPRD, dia pernah ikut dalam pembuatan perjanjian antara pemerintah daerah dan dokter. Ternyata, sangat sulit mencari dokter dan meyakinkan dokter bekerja di desa.

"Pengalaman saya saat jadi ketua DPRD, susah meyakinkan dokter, susah mencari dokter. Dokter itu kan profesi, tidak boleh dipaksakan, di sini saja. Pengalaman kami, mereka harus digaji dengan gaji tinggi, sediakan rumahnya, kendaraan, hidup nyaman. Jangankan hidup di desa, doker enggan tinggal di daerah yang tidak punya sinyal, air minim, terpenuhi kebutuhannya," paparnya.

Keraguan ini direspons Syarifuddin dengan percaya diri. "Itulah keberanian pemimpin. Tidak usah jadi pemimpin kalau tidak berani demi rakyat. Jangan takut, masih banyak dokter yang mau ke Morowali. Tinggal memberikan insentif yang tinggi sehingga dokter mau berbondong-bondong ke Morowali," paparnya.

Dia menambahkan, Morowali saat ini, bukan Morowali yang dulu. Infrastruktur sudah hampir memadai dan listrik hampir rampung. "Kalau pernah jadi ketua DPRD, selama ini pengawasan bapak di mana," katanya.

Editor : Maria Christina