Menteri Susi Sebut Nilai Tukar Nelayan Babel Tertinggi di Indonesia

Antara ยท Kamis, 25 April 2019 - 16:00 WIB
Menteri Susi Sebut Nilai Tukar Nelayan Babel Tertinggi di Indonesia
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

PANGKALPINANG, iNews.id – Nilar tukar nelayan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menempati posisi tertinggi di Indonesia. Harga ikan hasil tangkapan nelayan daerah itu tinggi karena dijual dalam bentuk segar.

“Ikan hasil tangkapan nelayan di Bangka Belitung lebih segar dan harganya juga lebih mahal,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat menjadi pembicara pada Sidang Pleno XVI Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia (AFEBI) di Pangkalpinang, Kamis (25/4/2019).

Susi mengatakan, populasi ikan di Babel sangat banyak. Apalagi provinsi penghasil bijih timah itu juga berdekatan dengan Singapura dan Malaysia. Ikan menjadi salah satu komoditas ekspor daerah ini.

“Di satu sisi ikan ini menghasilkan devisa bagi negara dan di sisi lain menjadi suatu kebaikan bagi nelayan di daerah ini,” katanya.


Dia menambahkan, harga ikan tinggi cukup bagus untuk nelayan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Apabila harga ikan mahal dan memberatkan ekonomi serta memicu inflasi daerah ini, masyarakat bisa memancing di laut.

“Mancing di laut Bangka Belitung sebentar saja mendapat ikan. Nanti melihat harga ikan di pasar tinggi, masyarakat menjual lagi hasil tangkapannya,” katanya.

Susi mengatakan bahwa seluas 71 persen wilayah Indonesia merupakan laut dan memproduksi ikan terbesar ada di Indonesia. Produktivitas ini harus dijaga dan bisnis yang dibangun harus beretika.

Integritas anak bangsa sangat dibutuhkan untuk menjaganya. Sebab, ekonomi perikanan harus menjadi potensi masa depan yang harus terus digarap meski pengelolaan perikanan tangkap sudah lebih baik.

“Mari kita bangun mentalitas dan paradigma karena sekarang kita punya situasi yang berbeda. Banyak wilayah bekas tambang ditinggalkan dan menjadi kota mati, dan Bangka salah satunya,” ujarnya.


Editor : Maria Christina