Hikmah

Marhaban Yaa Rabiul Awwal, Ini Keutamaan Bulan Maulid Nabi SAW

Kastolani · Sabtu, 17 Oktober 2020 - 09:05 WIB
Marhaban Yaa Rabiul Awwal, Ini Keutamaan Bulan Maulid Nabi SAW
Bulan Rabiul Awwal yang jatuh pada Minggu 18 Oktober 2020 merupakan bulan kelahiran manusia agung Nabi Muhammad SAW. (Foto: ist)

JAKARTA, iNews.id - Marhabaan ya Syahru Rabiul Awal. Selamat datang Bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Falakiyah mengeluarkan ikhbar bahwa awal bulan Rabiul Awal 1441 H jatuh pada Minggu, 18 Oktober 2020, persisnya dimulai sejak Sabtu malam.

Dalam kalender Hijriah, Rabiul awwal merupakan bulan ketiga dan menjadi salah satu bulan teristimewa karena di bulan itu manusia agung pembawa risalah seluruh alam dilahirkan.

Di bulan itu juga, Rasulullah Saw mendapat wahyu pertama dari Allah dengan turunnya Surat Al 'Alaq sekaligus menandakan awal kenabiannya.

Pembacaan shalawat, barzanji dan pengajian­-pengajian yang mengisahkan sejarah Nabi SAW menghiasi hari-hari bulan itu.

Isnan Ansory dalam bukunya Pro Kontra Maulid Nabi menyebutkan, Syaikh as-Sayyid Zain Aal Sumaith, dalam karyanya Masail Katsuro Haulaha an-Niqosy wa al-Jidal, mendefinisikan maulid Nabi Muhammad yakni, memperingati hari kelahiran Rasulullah dengan menyebut-nyebut kisah hidupnya, dan setiap tanda-tanda kemulian dan mu’jizat sang Nabi Saw dalam rangka mengagungkan kedudukannya, dan menampakkan kegembiraan atas kelahirannya.

Dari definisi ini dapat dipahami bahwa kegiatan yang dilakukan pada moment hari kelahiran Nabi Saw berwujud amalan-amalan ibadah yang bersifat mutlak.

Seperti melakukan pembacaan dan pengkajian tentang sirah Rasululullah melalui pembacaan syair-syair yang tertulis dalam kitab-kitab Maulid seperti al-Barzanji, Simtu ad-Duror, ad-Diba’,
Maulid Syaraf al-Anam, dan semisalnya, ataupun melakukan kegiatan tertentu yangdikatagorikan ibadah muthlak seperti membaca shalawat, membaca Alquran, bersedekah, dan lainnya.

Tujuan dalam melaksanakannya adalah dalam rangka menampakkan kegembiran atas kelahiran Sang Nabi mulia.

Pengungkapan rasa gembira itu memang dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan anugerah dari Tuhan. Sebagaimana firman Allah SWT :

Katakanlah (Muhammad), sebab fadhal dan rahmat Allah (kepada kalian), maka bergembiralah kalian. (QS Yunus, 58).

Sesunggunya, perayaan maulid itu sudah ada dan telah lama dilakukan oleh umat Islam. Benihnya sudah ditanam sendiri oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الِاثْنَيْنِ فَقَالَ فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ

Dari Abu Qatadah Al Anshari radliallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, maka beliau pun menjawab: "Di hari itulah saya dilahirkan, dan pada hari itu pula, wahyu diturunkan atasku." (HR. Muslim) [No. 1162 Syarh Shahih Muslim] Shahih.

Mari menyambut bulan mulia ini dengan memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad Saw agar mendapat syafaatnya di hari Kiamat.

Wallahu A'lam Bissawab.


Editor : Kastolani Marzuki