Kronologi Pasien BPJS di Bandar Lampung Meninggal Versi Keluarga

Andres Afandi ยท Rabu, 12 Februari 2020 - 13:18 WIB
Kronologi Pasien BPJS di Bandar Lampung Meninggal Versi Keluarga
Ansori ayah almarhum Muhamad Rezki Mediansori (21) saat memberi keterangan lambannya penanganan RS yang sebabkan anaknya meninggal. (Foto: iNews/Andres Afandi)

LAMPUNG, iNews.id – Muhamad Rezki Mediansori (21) warga Desa Palaspasemah, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan meninggal dalam penanganan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Moeloek Bandar Lampung, Senin (10/2/2020). Pasien BPJS tersebut mengembuskan napas terakhir di depan Kamar Nuri saat akan dipindahkan ke ruang perawatan.

Keluarga pasien tak terima dan merespons duka tersebut dengan marah-marah bahkan sempat memukul perawat magang serta merusak fasilitas rumah sakit. Mereka geram lantaran tidak mendapat pelayanan maksimal dan menilai lambatnya penanganan menjadi penyebab nyawa almarhum tak terselamatkan.

Ansori ayah almarhum menceritakan, kronologi kejadian bermula saat anaknya yang dirawat di RSUD Bob Bazar Kalianda Lampung Selatan dirujuk ke RSUD Abdul Moeloek dalam kondisi kritis. Mereka tiba di RSUD Abdul Moeloek Minggu (9/2/2020) pagi dan pasien langsung masuk Unit Gawat Darurat (UGD).

“Kami datang kurang lebih jam 6 pagi dan disuruh menunggu, seolah-olah pasien dibiarkan. Saya bertanya-tanya ke perawat, ini kan UGD kok dibiarkan. Kapan dirawatnya? Perawatnya bilang, nanti Pak masih konsultasi dengan dokter. Dokternya namanya Dokter Riki, nanti datang jam 5 sore,” ujar Ansori menceritakan pembicaraannya dengan perawat, Rabu (12/2/2020).

Dia mengaku ketika itu keluarga mencoba bersabar untuk menunggu dokter. Padahal keadaan pasien sangat kritis, kejang-kejang. Pasien telah didiagnosa sebelumnya mengidap sakit demam berdarah.

“Seharusnya namanya sudah ada diagnosa, penanganan rumah sakit harusnya bagaimana? sigaplah. Namanya UGD, gawat darurat kok dibiarin,” katanya.

Sampai kemudian dokter datang dan memeriksa pasien. Kemudian Dokter Riki memberi keterangan sakit pasien kepada keluarga dan kebutuhan obat. Dia juga meminta keluarga membeli obat di luar. Selain itu, karena trombosit kurang maka perlu tranfusi darah sebanyak 10 kantong.

“Saya usahakan, kami hubungi ke kampung, teman-temannya pada datang. Alhamdulilah malam itu juga kebutuhan 10 kantong darah tercukupi,” ucapnya.

Kemudian pukul 22.00 WIB, pasien dipindahkan ke ruangan. Itu pun bukan ruang perawatan penyakit dalam. Tetapi ruang penitipan untuk penanganan penyakit saraf.

Hari Senin (10/2/2020) pukul 14.00 WIB, kondisi pasien kembali kejang-kejang dan mengeluh terasa panas. Keluarga kemudian ke ruangan mencari dokter dan bertanya ke perawat.

“Kami khawatir dan cari dokter. Saya tanya ke perawat, jawabnya dokter masih di jalan. Padahal Dokter Riki ini sudah berjanji untuk menangani anak saya,” kata Ansori.

Kemudian dokter tiba dan langsung memeriksa pasien sudah dalam kondisi kritis. Dokter saat itu menginstruksikan agar pasien dipindahkan. Petugas kemudian memindahkan pasien meski awalnya keluarga merasa keberatan dan mempertanyakan mengapa baru dipindah karena sudah sejak kemarin kondisinya kritis.

“Pasien didorong cepat dalam keadaan gonjang-ganjing dan kejang-kejang. Saya teriak setop. Saya bilang ke petugas lihat lihat anak saya (kejang-kejang). Kami berhenti dan saya merangkul anak saya. Setelah itu kami lanjutkan mencari ruangan,” katanya.

Di sinilah Ansori sangat menyesalkan tindakan rumah sakit. Pasien dibawa keluar masuk ruangan melalui jalan sempit padahal brankar atau ranjang transfer pasien berukuran besar. Namun setelah masuk dalam ruangan, akhirnya keluar lagi dan kembali muter-muter.

“Di situlah selang oksigen terlepas. Dan ternyata ruangan yang dimasuki belum siap. Ruangannya belum ada, masih mencari-cari,” ujarny.

Hingga akhirnya, pasien meninggal saat proses pemindahan di depan Ruang Kamar Nuri. Emosi keluarga saat itu meledak hingga terjadi pemukulan dan perusakan. Detik-detik peristiwa meninggalnya pasien BPJS dan kemarahan keluarga ini terekam video amatir warga dan viral di media sosial.

“Saya sebagai orang tua kecewa atas pelayanan yang diberikan rumah sakit,” ucapnya.


Editor : Donald Karouw